Elara mencoba bergerak. Namun, tubuhnya terasa lemas. Sangat lemas. Dan saat itulah, langkah kaki tergesa terdengar mendekat. Cepat. Terburu-buru.“Elara?”Suara itu. Raven. Pria itu langsung muncul di sisi ranjang. Wajahnya terlihat tegang. Tidak setenang biasanya.“Kamu sadar?”Tangannya segera menyentuh dahi Elara. Memastikan suhu tubuhnya. Matanya meneliti wajah wanita itu dengan serius.“Elara, dengar aku.” Suaranya rendah. “Bagaimana kepalamu? Masih sakit?”Elara menatapnya beberapa detik. Berusaha mengingat. Dan detik berikutnya, bayangan pria paruh baya itu langsung muncul di kepalanya.Pria asing. Namun, terasa familiar. Sangat familiar. Elara langsung duduk sedikit tergesa. Membuat kepalanya kembali pening.“Pelan-pelan.” Raven langsung menahan pundak Elara. “Jangan bergerak tiba-tiba.”Namun, Elara tidak peduli. Matanya sibuk melihat sekitar. Mencari. “Mana pria tadi?” gumamnya pelan.
อ่านเพิ่มเติม