“Jangan minta maaf. Kamu tidak bersalah,” tutur Raven sembari membalas rengkuhan Elara tak kalah erat. “Maaf sudah membuatmu takut. Ada banyak hal yang ingin aku jelaskan. Tapi, kondisimu belum memungkinkan untuk mendengarnya,” lanjut pria itu. Raven sudah sangat yakin jika kini Elara pasti takut padanya. Ia ingat betul bagaimana reaksi wanita itu dua hari lalu. Namun, setelah memperhatikan ekspresi Elara lamat-lamat, ia menyadari ada kejanggalan yang terjadi. Elara tidak terlihat takut padanya. Justru, wanita itu tampak seperti menatapnya dengan sorot penuh sesal. Seolah-olah baru mengetahui sesuatu yang sangat mengguncang. "Celina..." Suara Raven terdengar pecah. Begitu pelan. Begitu tidak percaya. Seolah ia takut semua ini hanya mimpi yang akan lenyap begitu saja jika diucapkan terlalu keras. Wanita yang berada dalam pelukannya terus menangis. Tubuhnya bergetar. Tangannya mencengkeram erat kemeja Raven. Seakan takut pria itu menghilang. Atau mungkin, takut semua ingatan yan
Read more