Masuk“Ya,” jawabnya singkat. “Tempat ini terlalu bagus untuk dilepas.” Ia berjalan masuk, membuka jasnya lalu melemparkannya ke sofa sebelum duduk santai. “Semua tatanannya sama seperti saat kamu pergi. Juga saat aku pergi.” Anya menoleh. “Kenapa kamu lakukan ini?” Nares mengedipkan mata pelan. “Karena…” Ia menyentuh sofa yang ia duduki. “Aku kangen tempat ini.” Tangannya bergerak pelan di atas kain sofa. “Aku kangen sofa ini. Kamar di sini.” Tatapannya naik ke arah Anya. “Kenangan yang aku tinggalkan di sini.” Jantung Anya berdetak lebih cepat. Apa dia sudah tahu tentang malam itu? batinnya.
Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Anya. Ia menahannya sekuat mungkin agar tak jatuh. Ia tak mau terlihat rapuh di hadapan pria yang dulu menjadi pusat dunianya… dan sekaligus penghancurnya. Nares masih menggenggam tangannya. Tatapannya tak berpindah. Seolah enam tahun yang hilang tak pernah ada. Anya hendak membuka mulutnya untuk bicara,tiba-tiba ponselnya berdering. Suara itu memecah ketegangan seperti petir di tengah hujan. Anya refleks meraih ponsel dari tasnya. Ia melirik sekilas ke arah Nares sebelum mengangkatnya. Namun belum sempat jari-jarinya menyentuh ikon hijau, ponsel itu direbut. “Nares!” desis Anya. Nares menatap layar. Alisnya mengernyit. Nama yang tertera di sana membuat rahangnya mengeras. Sayangku ❤️ Tatapan Nares berubah. Cemburu dan emosi bercampur menjadi satu. Ia menoleh perlahan pada Anya. “Sayangku?” ulangnya, suaranya rendah. Anya cepat-cepat menghapus sisa air matanya, lalu menatap balik tanpa gentar. “Ternyata enam tahun ini k
Malam itu hujan deras mengguyur kota. Kini hanya tersisa gerimis tipis, namun genangan air masih memenuhi jalanan, memantulkan cahaya lampu kota yang temaram. Mobil Anya mogok. Leon sedang ke luar kota untuk urusan bisnis. Juan menemani Kyan dan Kiara di rumah, tak tahu apa pun tentang masalah ini, Anya sengaja tak memberi kabar. Ia tak ingin merepotkan siapa pun. Ia berjalan menyusuri trotoar, heels-nya sesekali terciprat air. Tangannya memeluk tas, matanya menatap layar ponsel. Lima menit lagi, taxi sampai. Ia mendengus pelan. “Katanya lima menit lagi…” Angin malam membuat rambutnya berantakan. Ia berdiri di bawah rintik gerimis, mencoba bersabar. Tiba-tiba... Sebuah payung hitam menaunginya. Anya mengernyit. Belum sempat menoleh, pergelangan tangannya digenggam erat. Refleks ia hendak menarik diri, namun payung itu justru diarahkan ke sisi jalan tepat saat sebuah mobil melaju kencang dan menyipratkan genangan air. Air itu hanya mengenai ujung sepatu mereka.
Sebelum Anya sempat protes, Juan sudah memijat lembut telapak tangannya. Gerakannya terampil, tekanan pas. Anya mengulas senyum kecil. Leon yang melihat itu hanya terdiam beberapa detik sebelum kembali fokus menyendok nasi. Ia menata empat piring di meja. Juan melirik. “Untukku mana?” Leon menatapnya datar. “Kamu siapa, ya?” “Hey, Leon. Kamu bisa bersaing dengan sehat nggak?” “Apa hubungannya?” Leon mengangkat bahu. “Mau makan? Ambil sendiri sana.” Juan mendengus pelan tapi tetap berdiri mengambil piringnya sendiri. Saat ia pergi, Kyan cepat-cepat kembali duduk di sebelah Anya. “ma, aku mau duduk di sebelahmu.” “Duduklah, sayang,” jawab Anya lembut. Saat Juan kembali dengan piring di tangan, ia mendengus melihat tempatnya sudah direbut lagi. “Kau serius?” gumamnya. Kyan menjulurkan lidah kecilnya. Akhirnya Juan mengalah. Ia duduk di kursi paling ujung, pa
Sementara itu, di kota yang berbeda dari hiruk-pikuk ibu kota, sebuah mobil putih berhenti pelan di depan rumah bergaya minimalis yang hangat dan asri. Anya turun lebih dulu, merapikan blazer tipis yang ia kenakan. Wajahnya terlihat lelah, tapi sorot matanya tetap tegar. Delia ikut turun dari sisi pengemudi. Wanita itu bukan sekadar atasan, tapi juga sosok yang banyak membantunya bangkit. “Perjalanan kali ini sangat melelahkan,” ujar Delia sambil meregangkan bahu. “Aku beri kamu dua hari untuk istirahat.” Anya tersenyum tulus. “Kau sungguh bos yang pengertian.” Delia terkekeh. “Kau sangat tahu aku.” Mereka tertawa ringan, seperti dua sahabat lama. Setelah saling melambaikan tangan, mobil Delia pun menjauh meninggalkan halaman. Belum sempat Anya membuka pintu pagar, dua bocah kecil sudah berlari keluar dengan tawa riang. “Mamaaaa!” Anya spontan
Siang itu ibu kota terasa lebih lengang dari biasanya ketika sebuah mobil mewah berwarna hitam pekat meluncur keluar dari area bandara dengan pengawalan di depan dan belakang. Kilau bodinya memantulkan cahaya matahari, memotong jalanan seperti penguasa yang kembali menagih takdir. Di dalam mobil, suasana sunyi. Sang sopir melirik melalui kaca spion, suaranya hati-hati. “Tuan sudah lama sekali. Kota ini sudah banyak berubah.” Pria yang duduk di kursi belakang itu tidak langsung menjawab. Wajahnya tegas, rahangnya mengeras, aura dingin bercampur karisma memenuhi ruang sempit itu. Jas hitamnya rapi tanpa cela. Matanya menatap lurus ke depan, tapi pikirannya melayang jauh. Ya. Banyak sekali yang berubah. Termasuk mungkin Anya… Enam tahun. Tanpa kabar. Tanpa penjelasan. Ia memutuskan semua kontak. Dengan keluarga. Dengan dunia. Dengan wanita yang ia tinggalkan. Dan sekarang ia kembali. Anya… aku kembali. Kita mulai dari awal, ya? batinnya lirih. Enam tahun sudah ia pergi tanpa ta
Di depan kelas, suasana mendadak hening. Alex berdiri di depan papan tulis dengan kepala tertunduk. Tangannya saling meremas, jelas tidak nyaman. Guru kelas berdiri di sampingnya. “Alex ingin menyampaikan sesuatu,” ujar sang guru. Alex menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Kiara. “Aku… ak
Leon tidak langsung pergi setelah memastikan Kyan dan Kiara masuk kelas. Wajahnya kaku, rahangnya mengeras. Ia berbelok menuju gedung administrasi dan berhenti tepat di depan pintu bertuliskan Ruang Kepala Sekolah. Tok tok tok. Tanpa menunggu jawaban, Leon masuk. Kepala sekolah yang tengah merap
Malam itu, lampu kamar Kiara masih menyala. Jam di dinding sudah melewati tengah malam, tapi anak kecil itu belum juga terlelap. Leon berdiri di ambang pintu sebentar, lalu melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang. Kiara memeluk bantal kecilnya, matanya terbuka, menatap langit-langit. “Kenapa Ki
Pagi itu Anya berjongkok di depan dua anak kembarnya. Kyan dan Kiara berdiri rapi dengan seragam sekolah, tas kecil menggantung di punggung mereka. Anya mengelus pipi keduanya bergantian, menahan rasa berat di dadanya. “Mama pergi beberapa hari ya,” ucapnya lembut. “Temani tante Delia,” tambahn







