Share

Siapa Juan?

Penulis: Senjaaaaa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 12:56:14

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Rosa.

Rosa menjerit kecil, tubuhnya terhuyung.

“Ares...!”

Amanda berteriak. “Ares! Berhenti!”

“DIAM!” bentak Nares, suaranya meledak. “Mama masih mau membela dia setelah melihat ini?”

Amanda memeluk Rosa refleks. “Apa pun salahnya, kamu tidak berhak memukulnya! Dia calon istrimu!”

Nares tertawa pendek, pahit, nyaris gila.

“Calon istri?” ulangnya. “Perempuan ini masuk ke kamar adikku. Menyentuh barang-barangnya. Merusak foto kami. Menuduh orang tak bersalah!”

Ia menunjuk Tania.

“Dia hampir menghancurkan hidup orang lain hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri!”

Rosa menangis, bersembunyi di balik Amanda.

“Aku takut, Ares… aku panik…”

“Panik?” Nares melangkah maju satu langkah. “Kau melempar kesalahan pada orang lain karena panik?!”

Amanda berdiri di depan Rosa. “Cukup, Ares! Kamu sudah keterlaluan!”

Nares menatap ibunya lama.

Tatapan yang penuh luka, kecewa, dan kemarahan yang menumpuk bertahun-tahun.

“Keterlalua
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Bayangan Nares

    Nares masih terlelap ketika Anya membuka matanya. Hal pertama yang ia sadari adalah jarak mereka terlalu dekat. Tubuh Nares terasa hangat dan kokoh. Anya refleks menahan napas saat menyadari ia berada dalam pelukan pria itu, dan… Nares tidak mengenakan atasan. Jantung Anya berdegup tak karuan. Dari jarak sedekat itu, Anya bisa melihat garis bahu dan dada Nares yang biasanya tersembunyi di balik kemeja rapi. Ia menelan ludah, merasa wajahnya langsung panas. Astaga… Saat Anya mencoba bergeser perlahan agar tidak membangunkannya, tangan Nares justru bergerak, refleks menarik pergelangan tangannya. Tubuh Anya kembali menempel ke dadanya. “Aww…” Nares meringis kecil, matanya masih terpejam. Anya panik. “K-kak? Sakit ya?” tanyanya cepat. “Yang mana? ini sakit ya?” Tangannya refleks menyentuh dada Nares, berusaha memastikan ia tidak apa-apa.

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Anya Kamu Keterlaluan!

    Malam itu hujan turun deras, disertai kilat yang menyambar tanpa jeda. Nares yang sedang menatap layar laptop di ruang kerjanya langsung berdiri. Ia tahu Anya tidak pernah baik-baik saja setiap hujan disertai petir. Namun sebelum ia melangkah keluar, pintu ruang kerjanya lebih dulu terbuka. Anya masuk tanpa mengetuk. Ia mengenakan piyama merah—warna kesukaannya. Rambutnya tergerai, masih setengah basah, tampak dikeringkan asal-asalan. Tanpa ragu, gadis itu langsung duduk di pangkuan Nares, seolah itu tempat yang paling wajar di dunia. Nares menoleh, menatapnya singkat. “Kamu takut?” tanyanya. Anya mengangguk kecil. “Boleh Anya di sini?” “Tentu saja,” jawab Nares tanpa berpikir panjang. Anya mengambil apel dari meja, menggigitnya, tetap duduk di pangkuan Nares dengan posisi menyamping. Nares kembali ke pekerjaannya, tangannya bergerak di atas keyboard, seolah keberadaan Any

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Mempermainkan Rosa

    Rosa membeku. Anak panah melesat, untungnya meleset… dan menancap di papan tepat di samping kepala Rosa. Jaraknya hanya beberapa senti. Rambut Rosa bergerak tertiup angin dari laju panah itu. Sedikit lagi...kepalanya yang menjadi sasaran. Tubuh Rosa langsung lemas. Lututnya hampir ambruk. Nares menunduk, bibirnya mendekat ke telinga Anya. Berbisik pelan, dingin. “Nyaris saja.” Anya menatap Rosa. Dia tidak terkejut. Tidak merasa bersalah. Hanya tatapan datar… kosong… dan sedikit menakutkan. “Kamu gila, ya?!” suara Rosa bergetar, antara marah dan takut. Namun tatapan Nares menyambar Rosa seketika. Tajam. Mengancam. Rosa teringat ucapan Amanda kata-kata yang memaksanya datang ke sini. Dekati Anya. Minta maaf. Kalau kamu ingin Nares, kamu harus masuk ke hati Anya. Rosa menelan ludah. Ia memaksa bibirnya terangkat. “Hahaha… hampir saja ya,” katanya kaku. “Untung gak kena. Gak apa-apa kok.” Tak ada yang menjawab. Nares sudah kembali berdiri di belakang Anya,

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Mempersiapkan Anya

    Anya sudah kembali ke kamarnya. Pintu tertutup rapat. Di dalam sana, hanya ada napasnya yang pelan dan sisa adrenalin yang belum sepenuhnya turun. Di taman belakang, senja mulai jatuh. Cahaya oranye memantul di anak-anak panah yang masih menancap di sasaran. Leon bersandar di pagar kayu, menyilangkan tangan. Ia menghela napas panjang, seolah masih tak percaya dengan apa yang barusan ia lihat. “Res…” Leon menoleh ke Nares. “Dia barusan ngeri banget.” Nares berdiri tegak, menatap lurus ke depan. “Bukan ngeri.” Leon mengernyit. “Terus apa?” “Lahir ulang.” Leon terdiam sejenak. Lalu tertawa kecil, kering. “Gila. Baru beberapa minggu lalu dia bahkan gak berani ngelihat bayangan sendiri. Sekarang… jarak segitu, sasaran sekecil itu.” Nares akhirnya menoleh. “Trauma itu pisau bermata dua. Bisa membunuh pemiliknya. Bisa juga mengasahnya.” Leon menyandarkan kepalanya ke tiang. “Dan kamu milih buat mengasahnya.” “Karena dunia gak bakal lembut sama Anya,” jawab Nares dingin.

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Siap Membalas

    Setelah sesi terapi selesai, Anya berdiri di tengah ruangan rehabilitasi dengan napas sedikit berat. Kakinya masih terasa ngilu, tapi kali ini ia tidak goyah. Ia benar-benar berdiri dengan kakinya sendiri. Dirga mengamati dari beberapa langkah jauhnya, lalu mendekat sambil membuka catatan medis. “Secara medis, ini di luar rata-rata,” ucapnya jujur. “Tulang betismu belum sepenuhnya pulih, tapi adaptasi otot dan sarafmu sangat cepat.” Anya menoleh. “Artinya?” “Artinya tubuhmu punya daya tahan tinggi,” jawab Dirga. “Dan yang lebih penting kemauanmu untuk bergerak jauh lebih kuat dari rasa sakit. Itu yang mempercepat pemulihan.” Nares berdiri di samping Anya, tangannya sigap menahan jika sewaktu-waktu gadis itu goyah. “Tapi jangan salah paham,” lanjut Dirga tegas. “Ngilu ini masih akan ada. Jangan dipaksakan. Kamu boleh berjalan, tapi pelan. Dengarkan tubuhmu.” Anya mengangguk. “Aku mengerti.” Dirga menatap Nares. “Dia kuat, tapi bukan kebal. Jaga ritmenya.” Nares mengan

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Kebangkitan

    Udara seakan membeku. “Apa?” suara Nares rendah, berbahaya. “Di sana lebih aman,” lanjut Amanda cepat. “Lebih terkontrol. Mama hanya ingin Anya sembuh.” “Tidak,” potong Nares keras. “Aku tidak akan pernah membawa Anya ke sana.” Rosa menyela dengan suara gemetar, penuh kepura-puraan. “Ares… aku tahu kamu sangat melindunginya. Tapi bagaimana kalau suatu hari Anya benar-benar kehilangan kendali? Aku takut… bukan untuk diriku. Untuk Anya sendiri.” Nares menoleh tajam ke arahnya. “Aku tidak bicara denganmu.” Rosa terdiam, menunduk seolah terluka. Amanda menghela napas panjang. “Baik. Kalau soal Anya kamu tidak mau dengar, kita bicara hal lain.” Nares menyilangkan tangan. “Apa lagi.” “Tentang kamu dan Rosa.” Nares tertawa sinis. “Aku sudah bilang...” “Kalian harus bertunangan,” potong Amanda tegas. Rahang Nares mengeras. “Tidak.” Amanda berdiri. Wajahnya berubah keras, dingin. “Kalau begitu, dengarkan ini baik-baik.” Nares menatapnya. “Jika kamu menolak per

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status