Di Kediaman Qu, malam turun perlahan seperti tirai gelap yang ditarik dari langit musim gugur. Lentera-lentera merah yang tergantung di serambi berayun pelan diterpa angin, bayangannya memanjang di lantai batu hijau. Nyonya Tua Qu berdiri di aula utama. Tongkat kayu hitam berukir kepala bangau di tangannya diketukkan ke lantai—sekali, dua kali, tiga kali—suara kerasnya memecah keheningan. Wajah tuanya yang dirias tipis tampak kaku oleh amarah. "Malam ini seharusnya diadakan ritual penangkal roh jahat untuk janin Su Minshan," ucapnya dingin. "Namun orangnya justru menghilang tanpa jejak." Di hadapannya, duduk seorang pria mengenakan jubah biru tua dengan sabuk giok sederhana—Jenderal Qu Liang. Di atas meja rendah di depannya, gulungan laporan dari istana masih terbuka, tinta di kuasnya bahkan belum sepenuhnya kering. Mendengar suara tongkat ibunya, ia segera mengangkat kepala. "Bukankah dia berada di Paviliun Teratai?" tanyanya, nada suaranya masih tenang, meski alisnya mulai b
Read more