Shen Libua berdiri di depan Lin Hua Su. Amarahnya menguar. Tidak, ia tidak marah ketika orang lain menyebutnya sampah, atau pun wanita tak berguna. Namun, ia tak akan pernah mampu melihta Lin Ye Su kehilangan nyawanya. Ia juga tak rela jika ibunya—Mo Lan An—dianggap seorang pembunuh dan musuh istana."Pergilah, kau tak dibutuhkan di sini. Puteri pembunuh sepertimu, tak sepantasnya menginjakkan kaki di istana."Shen Lihua mengepalkan tangan di balik hanfunya, matanya berubah keperakan dalam sekejan.Alunan guqun terdegar samar, lalu jelas. Suara guqin itu bening—jernih seperti embun di atas daun teratai saat fajar. Nada pertamanya ringan, namun mengguncang udara seperti riak tak kasatmata yang menyapu seluruh halaman istana. Semua orang membeku ketika mendengarnya. Sampai seorang pengawal berbisik dengan suara gemetar, "Itu… itu suara yang berasal dari Aula Naga." Lin Hua Su menoleh tajam ke arah sumber suara. Alisnya berkerut, dengan tangan gemetar. "Mustahil." Dia berka
Read more