Pagi itu, rombongan Shen Lihua akhirnya tiba di perbatasan menuju kota kecil Yaxia. Kabut tipis masih menggantung di udara, sementara angin dingin berembus pelan, membawa aroma tanah liar yang belum tersentuh peradaban. Berbeda dengan istana Yanqing yang megah dan penuh tata krama, wilayah ini terasa kasar, sunyi, dan menyimpan bahaya di balik ketenangannya. Shen Lihua berdiri di depan barisan pasukannya, tatapannya tenang namun tegas. Ia telah memutuskan sesuatu sejak perjalanan dimulai—sesuatu yang membuat para pengawal tak bisa berbuat banyak selain khawatir. "Kalian kembali saja ke Istana Yanqing," ucapnya dengan suara ringan, namun mengandung perintah yang tak bisa dibantah. Nada bicaranya tidak tinggi, tetapi cukup untuk membuat seluruh pasukan langsung menunduk hormat. Di antara mereka, Chen Mo Ran, jenderal agung yang baru menggantikan Qu Liang, maju satu langkah. Wajahnya dipenuhi kecemasan yang sulit disembunyikan. Ia tahu benar reputasi Yaxia—tempat di mana h
Read more