Pagi itu matahari Anyer bersinar terik, tapi angin laut masih sejuk. Nadia bangun lebih dulu, tubuhnya pegal tapi senyumnya lebar. Ia menulis pesan kecil di kertas hotel: “Mas, aku keluar sebentar beli oleh-oleh buat ibu dan Rian. Nggak lama. Kamu tidur aja dulu. Love you – Nadia” Ia memakai kaos oversize putih longgar milik Dava dan celana pendek denim, lalu keluar kamar pelan-pelan. Dava masih tertidur lelap. Di kamar, ponsel Dava bergetar. Video call dari Aurelia. Dava terbangun, melihat nama itu, ragu sebentar, lalu mengangkat dengan suara pelan. “Lia… pagi,” kata Dava, suaranya masih serak. Layar menampilkan Aurelia di kamar hotel yang sama. Ia memakai tanktop hitam tipis yang sangat longgar, rambut acak-acakan, mata bengkak karena menangis. Tapi senyumnya nakal. “Pagi, Dav… aku kangen suaramu.” Aurelia duduk di ranjang, kamera menyorot dari atas. Ia perlahan menarik tali tanktop ke bawah, memperlihatkan payudaranya yang penuh dan masih memar bekas malam dengan Adit. Tangan
Terakhir Diperbarui : 2026-03-06 Baca selengkapnya