Malam itu masih gelap ketika Dava berdiri di koridor lantai 3, ponsel masih hangat di tangannya setelah panggilan dari lobi. Reza ada di bawah. Bunga mawar merah di tangannya, senyum yang sama seperti empat tahun lalu. Dava merasa darahnya mendidih, tapi ia menahan diri. Nadia baru saja tertidur lelap setelah menangis panjang, tubuhnya masih lemah, infus masih menetes pelan.Dava berjalan cepat ke ruang perawat jaga malam. Perawat kepala, Bu Siti, sedang mengetik laporan. Dava mendekat, suaranya rendah tapi tegas.“Bu, ada pria di lobi bernama Reza. Dia minta jenguk Nadia. Tolong bilang ke dia bahwa Nadia sudah tidak ada di sini. Katakan dia sudah pulang tadi sore, atau dipindah ke rumah sakit lain. Buat alasan apa saja. Jangan kasih tahu ruangan, jangan kasih nomor telepon, jangan kasih apa pun.”Bu Siti mengerutkan kening. “Tapi Pak, kalau dia keluarga—”“Bukan keluarga,” potong Dava cepat. “Dia mantan yang pernah bikin Nadia hampir mati. Ini untuk keselamatan pasien. Saya yang tang
Terakhir Diperbarui : 2026-02-27 Baca selengkapnya