Malam itu, Dava tiba ruangan Reinhart tepat pukul 20:00. Rumah mewah di pinggiran kota itu berdiri megah di balik pagar tinggi dan kamera CCTV yang berputar tanpa henti. Dua penjaga bersenjata mengantarnya, memeriksa tubuhnya dengan detektor logam, lalu mengantarnya masuk tanpa sepatah kata pun. Ruangan tempat pertemuan kali ini berbeda. Bukan ruang tamu besar yang penuh mayat seperti kemarin. Kali ini hanya sebuah ruang kerja pribadi di lantai dua — meja kayu mahoni besar, kursi kulit hitam, rak buku yang menjulang hingga langit-langit, dan satu lampu meja yang menyala redup. Tidak ada anak buah. Tidak ada penjaga. Hanya Reinhart yang duduk sendirian di balik meja, jas hitamnya rapi, segelas wine merah di tangan kanan. “Tutup pintu,” kata Reinhart pelan, tanpa menoleh. Dava menutup pintu. Suara kunci berputar dari luar. Mereka benar-benar berdua sekarang. Reinhart akhirnya menatap Dava. Matanya tajam, tapi senyumnya tenang, hampir ramah — seperti seorang pengusaha yang sedang men
Terakhir Diperbarui : 2026-03-11 Baca selengkapnya