Pagi berikutnya menyapa kamar hotel dengan cahaya matahari yang redup menyusup lewat tirai tipis. Dava terbangun lebih dulu, tubuhnya masih terasa pegal karena memar lama dan aktivitas semalam. Aurelia masih tertidur pulas di pelukannya, tubuh telanjangnya menempel hangat di dada Dava, napasnya pelan dan teratur. Dava menatap wajah Aurelia yang damai meski masih ada bekas memar samar di lehernya. Ia mengusap punggung telanjang Aurelia dengan lembut, jarinya menelusuri lekuk pinggulnya. Malam tadi terasa seperti mimpi di tengah badai — penuh gairah, penebusan, dan keputusasaan yang berubah menjadi kehangatan. Aurelia menggeliat pelan, matanya terbuka perlahan. Begitu melihat Dava, ia tersenyum malu-malu, pipinya memerah mengingat betapa liarnya ia semalam. “Pagi, sayang…” bisik Aurelia, suaranya masih serak. Ia mendekat, mencium bibir Dava dengan lembut, tangannya menyusup ke dada Dava. “Pagi, Lia. Kamu… luar biasa semalam,” jawab Dava sambil tersenyum tipis, tangannya meremas p
Read more