Gudang tua itu terasa seperti ruang tanpa udara. Bau karat, debu, dan minyak mesin lama bercampur dengan aroma darah kering yang samar. Lampu neon di atas meja kayu berkedip-kedip, membuat bayangan semua orang bergoyang seperti hantu. Dava berdiri di tengah ruangan, napasnya pendek-pendek, matanya terkunci pada layar besar yang menampilkan Sita—terikat di kursi, mata membelalak ketakutan, lakban menutup mulutnya. Di belakang Sita, pria bertopeng itu mengarahkan pistol tepat ke pelipisnya. Reinhart berdiri santai di samping meja, tangan kanannya memegang ponsel yang mengendalikan video live itu. Bahunya masih diperban, tapi senyumnya lebar, penuh kemenangan. “Waktu mulai berjalan, Dava,” kata Reinhart pelan. “Pilihanmu sederhana. Serahkan Aurelia padaku—bersama anakku—dan Sita pulang hidup-hidup. Kalau tidak… kau akan lihat darahnya pertama kali. Lalu aku tetap akan ambil anak itu. Secara hukum. Kau tahu aku punya semua dokumen: akta nikah, hasil tes DNA, rekaman Aurelia yang diam-di
Terakhir Diperbarui : 2026-02-09 Baca selengkapnya