Adit sudah berada di depan Aurelia, jarak mereka tinggal beberapa senti. Bibirnya baru saja menyentuh bibir Aurelia—lembut dulu, seperti mencoba, lalu semakin dalam, semakin lapar. Aurelia tidak menolak. Lidah Adit menyelinap masuk, menjelajah dengan penuh kerinduan yang lama tertahan. Aurelia membalas—bukan karena cinta, tapi karena tubuhnya sudah menyerah pada panas yang membakar, pada rasa bersalah yang terlalu berat, pada kesepian malam ini yang terlalu gelap. Tangan Adit naik ke punggung Aurelia, menarik kaus tidurnya ke atas dengan gerakan cepat tapi penuh maksud. Kain itu terlepas, memperlihatkan tubuh telanjang di bawahnya. Mulut Adit langsung turun ke leher Aurelia, mengisap kuat hingga meninggalkan bekas merah, lalu ke tulang selangka, ke dada. Ia menangkap puting Aurelia dengan mulutnya, mengisap keras, lidahnya berputar-putar, giginya menggigit ringan sampai Aurelia mengerang keras, punggung melengkung menyambut. “Adit…” desah Aurelia, suaranya pecah, tangannya mencengke
Terakhir Diperbarui : 2026-02-21 Baca selengkapnya