Apartemen terasa lebih sunyi dari biasanya. Gerimis sudah berhenti, tapi angin pegunungan masih menyusup pelan lewat celah jendela, membawa dingin yang menusuk tulang. Dava terlelap di ranjang, napasnya pelan dan teratur, sementara Aurelia sudah tertidur lelap di sampingnya, satu tangan terletak di dada Dava seperti biasa. Lampu tidur kuning redup hanya menyisakan bayang samar di dinding. Dava terlelap, tapi pikirannya tidak pernah benar-benar istirahat. Dalam mimpi, ia berdiri di sebuah pantai yang tak ia kenal. Pasirnya putih lembut, ombak kecil menyapu kaki dengan ritme lambat. Langit senja berwarna jingga keemasan, tapi udara terasa dingin seperti puncak malam hari. Ia tahu ini bukan tempat nyata—terlalu sempurna, terlalu tenang—tapi hatinya langsung berdegup kencang saat ia melihat sosok itu. Sita. Ia berdiri di tepi air, punggung menghadap Dava, rambut panjangnya tergerai ditiup angin laut. Rambutnya lebih hitam, lebih berkilau, seperti disiram minyak kelapa segar. Tubuhnya
Terakhir Diperbarui : 2026-02-14 Baca selengkapnya