Pagi itu diselimuti hujan deras. Air mengguyur jendela apartemen tanpa ampun, menciptakan tabir suara yang memisahkan dunia luar dari kehangatan di dalam kamar. Petir sesekali menyambar di kejauhan, diikuti gemuruh rendah yang membuat udara terasa lebih tebal. Aurelia terbangun karena getaran halus petir itu, tubuhnya masih terbungkus selimut tebal, hangat dari sisa malam sebelumnya. Dava sudah terjaga, berbaring miring menghadapnya, mata gelapnya menatap wajah Aurelia dengan intensitas yang membuat jantungnya langsung berdegup lebih cepat. “Pagi,” bisik Dava, suaranya serak dan rendah, seperti hujan yang mengalir pelan di kaca. Aurelia tersenyum kecil, mata masih sayu. “Pagi. Hujan deras sekali.” Dava tidak menjawab dengan kata. Tangannya sudah bergerak—jari-jarinya menyusuri lekuk pinggang Aurelia di bawah selimut, lambat, penuh maksud. Ia mendekat, hidungnya menyentuh hidung Aurelia, napas mereka bercampur. “Hari ini kita nggak ke mana-mana,” katanya pelan. “Cuma kita berdua.”
Terakhir Diperbarui : 2026-02-17 Baca selengkapnya