"Sienna, apa impianmu?"Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Lucian, memecah keheningan kamar yang hanya diisi oleh suara gemeretak kayu bakar dari perapian.Malam sudah semakin larut, namun, di atas ranjang besar itu, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa memejamkan mata. Lucian dan Sienna berbaring dalam pelukan yang hangat, tubuh mereka saling merengkuh erat, namun pikiran masing-masing sibuk mengembara pada masa depan kelam dan penuh badai yang harus segera mereka hadapi.Sienna, yang menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, perlahan mendongak. Ia menatap garis rahang Lucian yang tegas dalam keremangan cahaya."Saya..." Sienna bergumam pelan. "Saya hanya berharap... saya bisa tetap bersama Anda seperti ini."Lucian terdiam untuk sesaat mendengar jawaban itu. Matanya menatap lurus ke arah ukiran di langit-langit kamar. Hembusan napas yang panjang dan pelan lolos dari bibirnya sebelum pria itu kembali membuka mulut."Apa itu benar-benar impianmu, Sienna?" tanya
Ler mais