MasukWilayah County Saxony sejatinya tidak terletak terlalu jauh dari perbatasan ibu kota. Dengan instruksi untuk memacu kuda tanpa henti membelah kegelapan hutan dan jalanan berbatu, kereta yang membawa Lady Lesley akhirnya menembus gerbang besi kediaman keluarganya tepat ketika lonceng tengah malam berdentang memecah kesunyian.Lesley turun dari keretanya dengan napas terengah dan tubuh yang luar biasa pegal. Tapi ia tidak mempedulikannya, Lesley berlari menuju pintu utama, takut jika dirinya terlambat sedetik saja.Karena hal itu bisa saja memancing kemarahan dari ‘orang itu’.Alih-alih disambut oleh pelayan yang panik atau ibunya yang menangis di samping ranjang pesakitan, Lesley justru menemukan pemandangan yang membekukan darahnya. Ayah dan Ibunya telah menunggu dengan wajah yang terlihat penuh kemarahan."Ayah...? Ibu...?" panggil Lesley ragu, langkahnya terhenti.Belum sempat Lesley mencerna apa yang terjadi, Count Saxony melangkah maju dengan cepat dan langsung mendaratkan sebua
Elizabeth menelan ludah. Tenggorokannya yang sedari tadi sudah mengering kini terasa seolah tersumbat sebongkah batu. Jantungnya berdegup semakin tak beraturan, sama sekali tidak mengerti ke mana arah percakapan yang tiba-tiba berbelok tajam ini."Ya, yang mulia...?" gumam Elizabeth, suaranya nyaris terdengar seperti bisikan yang tertahan.Sienna menopang dagunya dengan punggung tangan, menatap lekat-lekat wajah gadis di hadapannya. Dari bentuk rahang, hidung, hingga sepasang mata biru terang yang memantulkan cahaya di ruangan itu. Keduanya hampir bagaikan pantulan cermin dari dua sisi usia dan kematangan yang sedikit berbeda."Kau begitu mirip denganku, Lady Elizabeth," ucap Sienna pelan, nada suaranya mengalun penuh perhitungan. "Bahkan dari caramu memulas wajah dan menata rambutmu... kau begitu mirip denganku hingga aku hampir mengira bahwa kau memang sengaja berdandan sedemikian rupa untuk meniru diriku."Mendengar kalimat itu, Elizabeth kembali menelan ludah dengan susah payah
Di dalam kamar utama kekaisaran yang megah, udara terasa jauh lebih berat dari biasanya. Lady Elizabeth duduk di salah satu kursi berukir dengan postur tubuh yang luar biasa kaku. Punggungnya tegak lurus, sementara kedua tangannya bertautan erat di pangkuan untuk menyembunyikan jemarinya yang dingin dan terus bergetar.Di seberangnya, Permaisuri Sienna duduk dengan anggun. Wanita itu sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja jatuh sakit secara tiba-tiba sebelumnya. Dengan gerakan pelan, Sienna menyesap teh dari cangkir porselennya, membiarkan keheningan yang mencekik menguasai ruangan itu selama beberapa menit yang terasa seperti selamanya bagi Elizabeth.Elizabeth menahan napas. Jantungnya berdegup gila, menghantam tulang rusuknya dengan keras. Isi kepalanya berteriak panik, merangkai berbagai skenario terburuk tentang apa yang akan terjadi padanya jika rahasianya dan Rowan terbongkar hari ini, dan ia dituduh sebagai pemilik bubuk itu.Perlahan, denting pelan ter
Di dalam kamar khusus dayang yang sunyi, udara terasa luar biasa mencekik.Lady Elizabeth berjalan mondar-mandir di atas karpet tebalnya dengan napas memburu dan jemari yang saling meremas kuat. Gaun sutranya bergemerisik setiap kali ia memutar langkah. Kepanikan yang sejak pagi ia tekan mati-matian kini meledak dan menguasai seluruh akal sehatnya.Ia benar-benar ketakutan.Situasinya telah berbalik menjadi mimpi buruk yang paling mengerikan. Alice ditahan di ruang interogasi bawah tanah. dikurung atas kejahatan yang tidak ia lakukan. Lalu pagi ini, dengan mata kepalanya sendiri, Elizabeth melihat wajah pucat Lesley saat membaca surat, disusul dengan pelarian gadis licik itu kembali ke County dengan alasan yang Elizabeth yakini sepenuhnya sebagai kebohongan.Dan sekarang... hanya tersisa dirinya. Ia sendirian di sarang singa, terjebak bersama rahasia gelap tentang wadah perangsang yang pernah mampir di lacinya."Tenanglah, Elizabeth. Berjalan mondar-mandir seperti itu tidak akan men
Di sisi lain istana, pelataran yang luas tampak sibuk oleh persiapan keberangkatan.Angin berhembus cukup kencang, membawa hawa dingin yang menyengat kulit, namun keringat dingin tetap membasahi punggung Lady Lesley.Dengan barang bawaan yang dikemas seadanya dan terburu-buru, Lesley berdiri di dekat kereta kuda berlambang keluarganya. Jantungnya masih berdegup dengan ritme yang tidak wajar. Meski ia telah mengantongi izin dari Permaisuri Sienna rasa paranoid tetap merayap di benaknya.Sebagai putri bangsawan yang telah mempelajari intrik sejak kecil, Lesley tahu bahwa keluar dari gerbang istana hidup-hidup setelah melakukan percobaan makar adalah sebuah keajaiban yang hampir mustahil.Ia bahkan sempat mengira akan ditahan sejenak karena Lesley sama sekali belum mendengar akhir dari nasib Lady Alice.Sambil meremas ujung mantelnya, sepasang mata Lesley bergerak liar, memindai satu per satu orang yang ada di sekitarnya. Ia menatap tajam ke arah kusir yang sedang menenangkan kuda, pel
Kata-kata kejam yang meluncur dari bibir Ibu Suri ibarat belati tak kasat mata yang menghujam telak ulu hati Sienna. Napas sang Permaisuri tertahan sejenak. Di balik gaun birunya, kedua tangan Sienna mencengkeram erat lipatan kain sutra tersebut, berusaha menyalurkan rasa sakit dan penghinaan yang baru saja ia terima.Ia adalah Permaisuri kekaisaran ini. Ia tidak boleh terlihat hancur, apalagi di hadapan wanita yang dengan terang-terangan ingin menyingkirkannya.Sienna menelan kepahitan itu, memaksa bahunya untuk tetap tegak dan mengangkat dagunya. Ia menatap lurus ke dalam mata ibu mertuanya dengan ketenangan yang luar biasa."Aku mengerti kekhawatiran Anda terhadap masa depan kekaisaran, Yang Mulia," balas Sienna, suaranya diusahakan tetap stabil dan tidak bergetar."Tapi... pada akhirnya aku telah berubah pikiran mengenai kehadiran seorang selir di istana ini. Tetapi, satu hal yang pasti, jika pada akhirnya tetap akan ada selir, keputusan itu harus murni berasal dari Yang Mulia Ka
Sisa perjalanan menuju Ibu Kota berhasil dilewati dengan jauh lebih tenang. Berkat ramuan herbal rutin yang diberikan oleh Tabib yang ketakutan, rasa mual Sienna berangsur hilang. Rona merah perlahan kembali ke wajahnya.Ketika gerbang megah Ibu Kota mulai terlihat menjulang di kejauhan, Sienna tid
Riuh seketika meledak, memenuhi setiap sudut aula yang megah itu sesaat setelah pengumuman sang Kaisar bergema.Kali ini, tidak ada lagi yang menyembunyikan bisik-bisik mereka. Aturan kesopanan seolah dilupakan. Seluruh
"Apa kau sudah memutuskan ingin yang mana?"Suara bariton Lucian menyentak Sienna dari lamunannya. Gadis itu berdiri dengan kening berkerut di hadapan deretan gaun yang tergantung rapi di rak berlapis emas, gaun-gaun ya
Mendengar ucapan Alfred, keheningan yang mencekam langsung memenuhi ruang kerja Lucian.Bahkan Damien, ksatria bayangan yang terlatih untuk tidak menunjukkan emosi, terlihat kaget. Matanya membelalak menatap Alfred. Ia







