LOGINMata Sienna memancarkan kilat perlawanan yang keras kepala. Di balik napasnya yang tersengal dan wajahnya yang merah padam, ia memaksakan sebuah tawa kecil yang bergetar.Dia tidak mungkin berani, batin Sienna, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Lucian adalah seorang Kaisar yang menjunjung tinggi wibawa dan harga dirinya di atas segalanya. Ini hanyalah gertakan kosong untuk menakutiku.Sienna mengangkat dagunya, menatap langsung ke dalam mata merah suaminya dengan sisa-sisa keberanian palsu yang ia miliki. "Kau tidak akan melakukannya, Lucian."Kilat di mata Lucian menggelap seketika. "Kau meragukanku, Istriku?" bisiknya.Tanpa peringatan, lengan kekar Lucian bergerak. Pria itu bangkit berdiri seraya mengangkat tubuh Sienna dengan mudahnya, seolah istrinya seringan bulu. Dengan satu ayunan kasar dari tangan bebasnya, Lucian menyapu bersih permukaan meja teh di hadapan mereka.Teko porselen mahal, cangkir-cangkir teh, dan piring berisi kue lemon hancur berserakan di atas lantai batu
Sindiran tajam yang meluncur dari bibir Lucian mengiris keheningan rumah kaca, namun Sienna sama sekali tidak membiarkan senyum di bibirnya goyah.Menghadapi tatapan permusuhan dari sang suami, Sienna justru meresponsnya dengan kelembutan. Ia mengangkat teko, menuangkan teh beraroma melati ke dalam cangkir Lucian dengan gerakan lambat dan gemulai. "Ramai?" Sienna mengulang kata itu dengan nada ringan, seolah ucapan Lucian hanyalah sebuah candaan. "Ini adalah standar istana, Lucian. Kehadiran dayang di acara seperti ini adalah hal yang sangat wajar."Sienna mencondongkan tubuhnya, mendekati suaminya. Dengan gerakan yang terlihat begitu natural dan penuh afeksi, Sienna meletakkan satu tangannya yang lentik di atas bahu kokoh sang Kaisar.Jemari Sienna mengusap pelan kain sutra kemeja Lucian, memainkan peran sebagai istri yang penuh kasih sayang di hadapan para penontonnya."Seorang Permaisuri tidak pernah benar-benar sendirian. Mereka adalah tanganku, mataku, dan bayanganku." ucap Si
Keesokan sorenya, sinar matahari keemasan menyinari rumah kaca istana yang dipenuhi oleh hamparan bunga eksotis.Langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di jalur setapak. Lucian datang tepat waktu, berjalan melintasi deretan tanaman sesuai dengan permintaan istrinya.Sejujurnya, sang Kaisar sama sekali tidak sanggup menolak undangan dari Sienna. Ada letupan kecil kelegaan dan rasa senang di dadanya saat Damien menyampaikan pesan bahwa Permaisuri ingin minum teh bersama. Namun, Lucian memaksakan diri untuk menekan perasaan itu dalam-dalam. Wajahnya dipasang sedatar dan sedingin mungkin.Pria itu tidak bodoh. Ia sangat mengenal istrinya. Setelah konfrontasi panas mereka beberapa malam yang lalu dan penolakan kerasnya kemarin sore, Sienna tidak mungkin tiba-tiba mengundangnya hanya untuk menikmati aroma teh melati dan udara sore yang damai. Wanita itu pasti sedang merencanakan sesuatu yang baru.Dan benar saja. Tebakan Lucian terbukti tepat sasaran begitu ujung jubah\nya melewa
Elizabeth tersentak mendengar pertanyaan tajam dan aura membunuh yang mendadak mengarah padanya. Tangannya yang terbalut sarung tangan sutra mencengkeram erat kotak mahoni yang ia pegang."Saya... Lady Elizabeth Mountford, dayang Yang Mulia Permaisuri." jawabnya, menelan ludah dan berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Yang Mulia Permaisuri meminta saya untuk mengantarkan kotak ini langsung kepada Anda, Yang Mulia."Lucian menyipitkan mata merahnya. Tatapannya menajam seperti belati, seolah menguliti gadis di hadapannya itu hidup-hidup. Pria itu menatap lurus ke dalam sepasang mata biru yang sangat menyerupai milik istrinya, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan atau ambisi tersembunyi, mencari bukti bahwa putri Duke ini bekerja sama secara sadar dengan rencana gila Sienna.Tapi, raut wajah pucat dan kebingungan di mata Elizabeth mengatakan hal lain. Wanita ini memancarkan ketegangan yang nyata. Ia rupanya benar-benar tidak menyangka bahwa Sienna memiliki maksud te
Mendengar pertanyaan bernada dingin itu, kepanikan yang baru saja reda kembali mencekik leher Lesley. Gadis kikuk itu seketika salah tingkah, wajahnya memucat pasi seolah baru saja menyadari bahwa ia telah menggali kuburannya sendiri. Di sudut ruangan, Lady Alice ikut menahan napas, meremas ujung gaunnya dengan tangan gemetar, terlalu takut untuk campur tangan.Hanya Lady Elizabeth yang tetap mempertahankan ketenangannya.Putri Duke itu meletakkan sisir perak di tangannya ke atas meja rias dan menatap Lesley, sorot matanya menajam memberikan peringatan."Berdirilah, Lady Lesley. Rapikan perhiasan itu dan jangan mengatakan hal yang tidak penting di hadapan Yang Mulia permaisuri." tegur Elizabeth.Namun, Sienna tidak membiarkannya berlalu begitu saja. Sang Permaisuri mengangkat tangannya, menghentikan usaha Elizabeth untuk mengalihkan topik. "Aku sedang bertanya." ucap Sienna pelan. "Rumor apa yang beredar tentangku di luar sana?"Ruangan itu seketika hening. Udara terasa begitu bera
"Semuanya sangat sempurna, Yang Mulia Permaisuri." jawab Elizabeth, menundukkan kepalanya sedikit tanpa menghentikan gerakan tangannya. Suaranya lembut dan terukur, ia benar-benar terlihat seperti wanita bangsawan yang tak bercela. "Kebaikan dan kemurahan hati Anda dalam menyambut kami adalah sebuah kehormatan besar. Saya tidak memiliki keluhan apa pun."Sienna mengangguk pelan. Sopan, sempurna, namun sangat berhati-hati, batin sang Permaisuri. Elizabeth menyembunyikan setiap emosinya di balik topeng kesempurnaan seorang putri Duke dengan baik.Sementara itu, di sisi lain ruangan, Lady Lesley dan Lady Alice tengah sibuk memilah gaun dan kotak-kotak perhiasan berat yang akan dikenakan Sienna hari ini.Berbeda dengan Elizabeth yang tenang, Lesley tampak sangat tegang. Gadis dari keluarga Count wilayah selatan itu memiliki wajah yang pucat sejak melangkahkan kaki ke dalam kamar. Berada di ruangan yang sama dengan Permaisuri yang kemarin membungkam seluruh gadis bangsawan hanya dengan
Sienna membulatkan matanya mendengar perkataan itu. Apa obat itu… membuat orang yang mengkonsumsinya jadi berbicara melantur?"Itu... itu berlebihan sekali...." ucap Sienna dengan dahi berkerut. "Anda tidak boleh mempertaruhkan nyawa semudah itu, Tuan Duke! Itu mengerikan!"Lucian terdiam sejenak.
Sienna menyerahkan cangkirnya kembali pada Marta, tapi rasa bergejolak di perutnya tidak benar-benar hilang. Ia merasa seperti ada ombak yang terus menghantam dinding perutnya."Marta..." panggil Sienna lagi, kali ini dengan nada memohon. "Tolong panggilkan tabib yang ikut dalam rombongan. Aku tahu
Petinggi kuil itu menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya tidak bisa lepas dari kilauan emas di dalam peti yang terbuka, lalu beralih membayangkan kemegahan menara baru yang akan direnovasi.Renovasi menara utama... itu adalah proyek impiannya yang tertunda selama sepuluh tahun karena kurang d
Para penjaga di menara pengawas saling berpandangan bingung. Mereka melihat kereta kuda pribadi Nona Muda mereka melaju masuk dengan kecepatan tinggi, padahal ini bukan jadwal kepulangan Lady Alexandria.Di dalam ruang kerjanya, Marquess Ashford mengerutkan dahi dalam-dalam saat melihat kedatangan p







