Mendengar jawaban yang begitu terus terang itu, jantung Sienna berdegup satu ketukan lebih cepat. Darahnya berdesir hangat. Semburat merah seketika menjalar, mewarnai kedua pipinya.Sienna menundukkan pandangannya, tiba-tiba merasa sangat malu dan salah tingkah. Melihat wajah istrinya yang merona merah padam, tatapan Lucian semakin melembut. Senyum tipis yang memabukkan terukir di sudut bibirnya. Pria itu mengulurkan tangannya, memetik sekuntum bunga berwarna putih yang mekar sempurna dari semak di dekat mereka.Dengan sentuhan yang sangat berhati-hati, seolah takut merusak barang berharga yang mudah pecah, Lucian menyelipkan tangkai bunga itu ke balik telinga Sienna. Jari-jari besarnya, kini mengusap lembut pipi istrinya yang merona, lalu menelusuri garis rahangnya, hingga beristirahat dengan posesif di tengkuk wanita itu.Sienna kembali mendongak. Mata biru jernihnya menatap lurus ke dalam manik mata merah suaminya."Kau jauh lebih indah dari bunga manapun di taman ini, Sienna."
閱讀更多