Suasana di ruang audiensi pribadi itu mendadak mendingin. Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca patri tidak mampu mencairkan ketegangan yang membeku di antara ketiga orang di sana.Duke Mountford berdiri dengan punggung tegak, namun guratan kemarahan masih membekas jelas di wajahnya. Di sampingnya, Elizabeth berdiri dengan wajah pucat. Gaunnya yang indah menutupi bilur-bilur luka di betisnya, namun setiap gerakan kecil membuatnya meringis tertahan, rasa sakit yang terus mengingatkannya pada kekejaman sang ayah pagi tadiSienna duduk di kursi kebesarannya, menyesap tehnya dengan gerakan yang sangat tenang, seolah gertakan sang Duke hanyalah angin lalu."Hidupnya bukan lagi milik Duchy Mountford, melainkan milikku.” ulang Sienna, suaranya mengalun rendah namun tajam. Ia meletakkan cangkir porselennya ke atas meja. "Bukankah kau sudah tahu mengenai protokol itu sebelum mengirimkannya ke sini, Duke? Lady Elizabeth hanya bisa kembali ke Duchy dan menikah jika aku sebagai permais
Ler mais