"Bohong..." bibir Arthur bergetar hebat. Ia berusaha mengulurkan tangannya yang terbelenggu rantai besi untuk meraih perkamen itu.Namun, sebelum jari-jarinya yang gemetar sempat menyentuh kertas tersebut, sebuah sepatu bot baja menginjaknya. Sir Damien menunduk, memungut salah satu surat yang kondisinya paling utuh, lalu membukanya dengan gerakan tegas.Atas isyarat dari Kaisar Lucian, ajudan setia itu berbalik menghadap lautan rakyat dan barisan bangsawan. Ia menarik napas panjang, lalu membacakan isi surat tersebut dengan suara lantang yang digemakan oleh sihir pengeras suara ke seluruh penjuru alun-alun."Tahun ke-115 Kekaisaran, Musim Dingin." Sir Damien memulai, suaranya yang berat membelah ketegangan. "Surat ini ditulis langsung oleh mendiang Permaisuri terdahulu, ditujukan untuk Count Saxony yang saat itu masih bergelar pewaris muda."Damien menjeda sejenak, membiarkan fakta itu meresap, sebelum mulai membaca baris demi baris tulisan tangan bernada putus asa tersebut."Kekasih
Ler mais