로그인Untuk sesaat, hanya hening yang mengisi ruang baca paviliun tersebut. Tidak ada kata yang terucap, hanya suara detak jarum jam yang seolah menghitung detik-detik kebimbangan di dalam dada Alice.Gadis itu tidak bisa segera menjawab. Lidahnya terasa kelu oleh beban realitas yang menghimpitnya. Di sisi lain meja, Caesar menolak untuk mendesak, memberikan Alice seluruh waktu dan ruang yang ia butuhkan untuk mencerna segalanya.Hingga akhirnya, sebuah helaan napas panjang meluncur dari celah bibir Alice.Gadis itu perlahan mengangkat wajahnya. Kepalanya yang sejak tadi tertunduk kini menatap lurus ke arah pria di hadapannya. Akal sehatnya mulai mengambil alih, menamparnya dengan kenyataan yang lebih besar. Alice sadar, ia tidak bisa terus bersikap egois dengan hanya memikirkan kenyamanan, waktu kesiapan, dan traumanya sendiri.Kekaisaran saat ini sedang berada di ambang krisis yang tak kasat mata. Raja Alexander berkeliaran membawa ancaman, keselamatan Permaisuri Sienna sedang menjadi
Begitu punggung Raja Alexander dan ajudannya benar-benar menghilang di balik belokan lorong batu, ketegangan tak kasat mata yang mengunci area taman itu perlahan mengendur. Para Ksatria Bayangan yang bersembunyi di atas pohon dan di balik tembok perlahan menurunkan senjata mereka, meski tetap bersiaga.Dari balik pilar, Rowan segera keluar dari persembunyiannya. Sang Marquess baru itu melangkah setengah tertatih, menumpukan sebagian berat badannya pada tongkat penyangga, dan berjalan tergesa-gesa untuk memangkas jarak yang memisahkannya dari Elizabeth."Elizabeth!" panggil Rowan dengan suara parau yang sarat akan kekhawatiran. Ia berhenti tepat di hadapan gadis itu, matanya yang tajam menelusuri wajah dan tubuh Elizabeth, memastikan tidak ada satu pun goresan padanya. "Apa kau tidak apa-apa?"Elizabeth menarik napas panjang yang sedari tadi tertahan di dadanya. Ia mengangkat tangannya yang sedikit gemetar, melepaskan topi lebar yang menutupi wajahnya."Aku baik-baik saja, Rowan," jaw
Rencana nekat itu akhirnya benar-benar dijalankan. Setelah Elizabeth terus mendesak dan memohon dengan penuh tekad, Permaisuri Sienna akhirnya menyerah, meski dengan hati yang diselimuti teror.Siang itu, matahari bersinar cukup terang di ibu kota utara, memberikan sedikit kehangatan di atas taman istana yang mulai bersemi. Elizabeth berjalan pelan menyusuri jalan setapak berbatu. Gadis itu mengenakan gaun sutra elegan yang biasa dipakai oleh sang Permaisuri, lengkap dengan sebuah topi bertepi lebar berhiaskan jaring tipis yang menutupi separuh wajah atasnya. Dari kejauhan, siluet dan perawakannya adalah replika sempurna dari Sienna.Untuk menghindari kecurigaan Alexander dan meminimalisir risiko yang tidak masuk akal, Elizabeth telah memikirkan semuanya dengan matang. Ia sengaja tidak berjalan di taman yang terisolasi. Ia memilih jalur taman utama yang dikategorikan 'aman'. jalur yang hanya berjarak beberapa menit dari rute utama di mana para delegasi asing dijadwalkan akan lewat
Cahaya matahari siang yang menerobos masuk melalui jendela paviliun dayang sama sekali tidak mampu mengusir hawa dingin yang bersarang di dalam kamar Alice.Gadis berambut cokelat itu duduk bersandar di kepala ranjang, memeluk kedua lututnya dalam diam. Pandangannya kosong menatap selimut di pangkuannya. Di sisi ranjang, Permaisuri Sienna duduk menemaninya, sementara Elizabeth berdiri menyandar pada pilar ranjang dengan wajah penuh duka dan amarah yang tertahan.Melihat kondisi dayangnya yang kehilangan seluruh percikan kehidupannya, Sienna akhirnya menghela napas panjang dan berat. Ia memutuskan sudah saatnya membagikan apa yang ia dan Kaisar Lucian temukan semalam."Alice... Elizabeth..." panggil Sienna pelan, memecah keheningan yang menyesakkan itu.Kedua dayang itu menoleh sedikit ke arah sang Permaisuri, meski tatapan Alice masih terlihat redup."Semalam, Kaisar Lucian dan aku membicarakan tentang insiden di alun-alun," Sienna mulai bercerita, suaranya terdengar lelah. "Setiap
"Yang Mulia..."Suara menggoda itu mencoba menarik kembali perhatian sang Putra Mahkota. Seorang pelayan wanita berparas cantik, yang akhir-akhir ini selalu menjadi favorit Alexander untuk menghangatkan ranjangnya, duduk bermanja di atas pangkuan pria itu. Jari-jarinya yang lentik dengan berani mengelus dada bidang Alexander di balik kemeja sutranya yang terbuka, sementara bibir merahnya mengecup rahang sang Putra Mahkota.Namun, Alexander sama sekali tidak bergeming.Tubuhnya memang berada di sana, duduk bersandar di kursi beludru kamarnya yang megah, tetapi pikiran dan matanya terus melirik ke arah lain, menembus jendela besar kamarnya, menuju kegelapan taman belakang yang telah lama ditinggalkan oleh para pekerja.Sentuhan pelayan cantik di pangkuannya tiba-tiba terasa begitu hambar dan membosankan. Aroma parfum bunga lili yang menguar dari tubuh wanita itu justru membuatnya muak. Yang berputar-putar di kepala Alexander saat ini hanyalah aroma tanah kering dan keringat dari seora
Di dalam kamar utama Paviliun Tamu Istana yang porak-poranda, udara terasa pekat oleh bau anyir darah dan amarah yang belum sepenuhnya padam.Pecahan vas porselen, serpihan kaca dari bingkai lukisan yang hancur, dan perabotan kayu yang terguling berserakan di atas lantai pualam. Di tengah kekacauan itu, Raja Alexander berdiri dengan napas memburu, mengusap wajahnya yang dipenuhi keringat dingin dengan kasar. Kepalanya berdenyut hebat, diserang oleh suara-suara dari masa lalu yang menolak untuk dibungkam.Ia menunduk, menatap bengis ke arah ajudannya yang masih meringkuk berlumuran darah di dekat pilar batu."Keluar," desis Alexander, suaranya bergetar menahan luapan frustasi yang nyaris meledakkan tengkoraknya. "Keluar dari pandanganku sebelum aku benar-benar memenggal kepalamu malam ini juga, Philippe!"Sang ajudan itu tidak berani membantah. Sambil menahan sakit yang luar biasa dari tulang rusuknya yang retak, Philippe merangkak mundur, lalu dengan tertatih-tatih menyeret tubuh bes
Sinar matahari pagi menembus tirai kamar tidur Sienna. Gadis itu duduk bersandar di tumpukan bantal, sementara tabib kastil kembali memeriksa pergelangan tangannya."Racunnya sudah bukan masalah lagi." gumam tabib itu sambil mengangguk-angguk pelan. "Penyembuhannya berjalan lebih cepat dari perkira
Tidak butuh waktu lama bagi Lucian untuk menyeberangi kastil menuju sayap barat. Langkah kakinya lebar dan cepat. Para ksatria yang mengikutinya harus setengah berlari untuk menyamakan langkah dengan amarah tuan mereka.Lucian tiba di depan pintu ganda kamar tamu mewah yang ditempati Alexandria. Ta
Suara langkah kaki berat menggema di lorong kastil, membelah keheningan mencekam yang memenuhi seluruh bangunan sejak tadi. Lucian telah kembali.Ia memacu kudanya tanpa henti begitu mendengar kabar kekacauan di pesta teh itu melalui surat yang dibawa oleh merpati. Ia juga memberikan sebuah perinta
Satu minggu telah hampir berlalu tanpa Sienna sadari. Besok adalah hari pesta teh Duchess Beatrice.Kastil terasa jauh lebih dingin dan sunyi dari biasanya. Duke Lucian tidak ada di sini. Sudah tiga hari pria itu pergi ke perbatasan wilayah untuk menyelesaikan masalah perdagangan di perbatasan wila







