Sagara tidak menunggu lama. Pria itu langsung menyambar bibir istrinya dengan kasar, sebuah lumatan yang sudah sangat familiar bagi mereka, namun kali ini terasa berbeda karena tidak ada lagi beban rahasia atau rasa bersalah yang membayangi.Selama ini, pertemuan mereka di balik pintu tertutup selalu penuh dengan ledakan gairah yang terlarang, sebuah pelarian brutal dari kenyataan. Namun malam ini, kebrutalan itu adalah hak yang sepenuhnya diakui oleh semesta."Nngghh... Sa, pelan sedikit," Aruna merintih saat tangan Sagara merobek sisa kain yang menghalangi dengan tidak sabar."Kamu tahu saya tidak bisa pelan kalau sudah menyentuh kamu, Aruna," geram Sagara.Suara baritonnya pecah, penuh dengan rasa lapar yang selama ini ia tekan di depan publik. Sagara membalikkan tubuh Aruna dengan gerakan cepat hingga wanita itu kini berada dalam posisi menungging, mencengkeram sprei satin yang kini sudah kusut masai.Sagara merapatkan tubuhnya dari belakang, kulit mereka yang bersentuhan terasa p
Read more