"Sialan, Aruna," umpat Sagara rendah yang sarat akan gairah yang kembali tersulut.Tiga hari kemudian, kediaman Om Hendra tampak lebih sibuk dari biasanya. Aruna berdiri di depan cermin besar, merapikan kebaya modern berwarna pastel yang melekat pas di tubuhnya.Rambutnya disanggul rapi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah manisnya."Non, Pak Sagara dan keluarga sudah sampai di depan," lapor Bibi dengan wajah sumringah.Aruna menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya."Iya, Bi. Aruna segera turun,” setelahnya langkah kaki itu terdengar penuh dengan tekanan saat keluar kamar.Di ruang tamu, suasana mendadak hening ketika dua pria paruh baya saling berhadapan. Om Hendra berdiri tegak, tangannya terkepal di samping tubuh. Di hadapannya, Om Pratama, Papa Sagara melangkah masuk dengan bantuan tongkat kayu yang elegan.Langkahnya lebih lambat dari ingatannya dulu, namun auranya tetap berwibawa. Di belakangnya, Sagara berdiri tegap dengan setelan jas navy yang
Read more