Setelah berdebat di bagian makanan, sekarang mereka menuju destinasi akhir yaitu pemilihan undangan. Di dalam galeri yang beraroma kertas mahal dan lilin aromaterapi itu, Aruna dan Sagara duduk berhadapan dengan seorang konsultan desain yang sudah menyiapkan puluhan sampel kertas di atas meja marmer.Sagara, dengan insting bisnisnya yang tajam, langsung menunjuk sebuah sampel undangan yang sangat sederhana. Kertas hitam tebal dengan tekstur doff, dihiasi tulisan emboss berwarna perunggu (bronze) yang sangat maskulin dan bersih. Tidak ada pita, tidak ada bunga, hanya tipografi yang sangat tegas."Ini," ucap Sagara pendek, memberikan penekanan pada pilihannya. "Elegan, simpel, dan profesional. Nama kita di sana sudah cukup untuk menunjukkan kelas acara ini tanpa perlu banyak hiasan yang tidak perlu."Aruna menarik napas panjang, menatap desain pilihan Sagara yang menurutnya lebih mirip kartu keanggotaan klub golf eksklusif daripada sebuah undangan pernikahan yang penuh cinta. Aruna kemu
Read more