Sagara menggeleng pelan, sudut bibirnya terangkat dalam senyum yang setengah nakal, setengah menantang.“No,” jawabnya rendah, suara yang sudah serak karena hasrat.Aruna membelalak sejenak, tapi sebelum ia sempat protes atau bertanya, Sagara sudah menarik pinggulnya lebih dalam ke pangkuannya. Gerakan itu membuat Aruna terdorong maju, dada mereka hampir menempel, dan posisi duduknya kini benar-benar mengangkangi Sagara sepenuhnya.Celana dalam Aruna yang tipis terasa semakin basah, bergesekan dengan kain celana Sagara yang sudah tegang di bawah sana.“Sa, lampunya terang, filmnya- ahh,” Aruna mencoba bicara, suaranya terputus oleh desahan kecil saat Sagara menggeser pinggulnya pelan, sengaja membuat gesekan yang membuat Aruna menggigit bibir.“Justru itu yang bikin menarik,” potong Sagara, matanya gelap dan penuh godaan.Aruna menelan ludah. Layar TV masih memutar adegan yang semakin liar dengan dua tubuh saling menindih, desahan saling menyahut, kamera mengambil sudut yang tak menyi
Terakhir Diperbarui : 2026-01-24 Baca selengkapnya