Pagi itu cahaya matahari menyusup pelan melalui tirai tipis apartemen Sagara di lantai 6. Udara masih terasa dingin, aroma kopi yang Sagara seduh tadi pagi menguar lembut di ruang tamu. Aruna sudah bangun lebih dulu, duduk di sofa panjang dengan selimut tebal melingkari tubuhnya.Matanya masih agak sembab, tapi ada sedikit warna yang mulai kembali di pipinya. Ia memegang cangkir teh hangat yang Sagara buatkan, menatap keluar jendela dengan pemandangan kota yang sibuk di bawah sana.Sagara keluar dari dapur, membawa piring kecil berisi roti panggang dengan selai kacang dan potongan pisang, makanan ringan yang ia tahu Aruna bisa terima tanpa mual. Ia duduk di samping Aruna, meletakkan piring di pangkuannya.“Makan sedikit dulu, ya. Kamu belum makan apa-apa sejak kemarin sore,” katanya lembut, tangannya mengusap punggung Aruna.Aruna tersenyum kecil, tapi tidak langsung mengambil roti.“Nggak laper, Sa,” lirih sekali dan begitu lemah.Sagara tidak memaksa. Ia hanya mengangguk, membiarkan
Terakhir Diperbarui : 2026-01-31 Baca selengkapnya