Aruna meraih lengan Sagara dengan lembut tapi tegas. Senyumnya manis, tapi ada kilau nakal di matanya yang sudah lama tidak muncul.“Sa, dengar aku dulu,” katanya pelan, jari-jarinya menyusuri kerah kemeja Sagara.“Kamu udah ngurusin aku berhari-hari. Antar-jemput aku, masak, nemenin tidur, bahkan gendong-gendong aku terus. Tubuh kamu pasti pegel semua. Aku tahu kok, kamu cuma pura-pura kuat di depan aku.”Sagara menggeleng pelan, tapi tangannya tidak menolak saat Aruna mulai membuka kancing kemeja satu per satu.“Na, saya tidak-”“Sst,” potong Aruna sambil menatap mata Sagara, “kamu selalu bilang aku harus istirahat, harus jaga diri. Sekarang gantian dong kamu yang butuh istirahat.”Sagara diam. Ia melihat mata Aruna yang sudah mulai cerah lagi setelah berminggu-minggu gelap dan akhirnya menyerah. Ia mengangkat kedua tangan, membiarkan Aruna menarik kemeja dari bahunya. Kain itu jatuh ke lantai dengan suara pelan. Aruna tersenyum puas, tangannya menyentuh dada telanjang Sagara, mengi
Dernière mise à jour : 2026-01-31 Read More