Krak.Kuku telunjuk kanan asliku patah lagi, mentok di sela ubin tegel yang mencuat ke atas karena tekanan dari bawah. Cairan merah tua kental keluar merembes dari sela kulit yang mengelupas, bercampur minyak ritual hitam yang baunya anyir mirip bangkai tikus got. Masih memegangi ujung sepatu kain kotor Haneul aku sekarang. Pegangan tangan kananku gemetaran parah, licin karena daki semen dan sisa pelumas oli mesin yang bocor dari pipa plafon atas.Makin tinggi tubuh anak itu terangkat ke udara. Satu jengkal. Dua jengkal. Kakinya beneran melayang otomatis menuju pusaran kabut hitam Malakai yang berputar di lubang langit-langit altar.Muntah lagi.Hueeek.Cairan kuning bercampur busa pahit keluar menyembur dari sela respirator besiku yang sudah penyok sebelah. Lendir itu menetes langsung ke atas genangan minyak babi bawah daguku, bikin permukaan cairan kotor itu beriak kecil. Mata asliku rasanya perih setengah mati, kelopak matanya lengket penuh debu arang gosong yang mulai mengering ke
더 보기