Aslan menatap Laura lama, seolah sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar pilihan tujuan mobil.“Aku bilang ke rumah sakit,” ulangnya, nada suaranya datar tapi mengandung tekanan.Laura menggeleng pelan. Kepalanya masih pening, perutnya terasa perih dan bergejolak. “Tidak… aku tidak mau ke rumah sakit. Aku cuma butuh istirahat,” ucapnya lirih. “Tolong, Paman. Sekali ini saja dengarkan aku. Aku tidak apa-apa." Mobil melaju di bawah lampu-lampu jalan yang memantul pucat di kaca. Rick yang menyetir melirik lewat spion, menangkap ketegangan di antara mereka, lalu kembali fokus ke jalan tanpa berkata apa-apa.Aslan menghela napas panjang. Rahangnya mengeras. Ia tahu Laura keras kepala. Dan lebih dari itu, ia tahu jika dipaksa, Laura akan lebih keras kepala. Akhirnya ia diam dan menurut saja. “Baik,” katanya akhirnya. Satu kata. Pendek. Berat. “Kita ke rumahmu. Tapi kalau kau pingsan lagi, aku tidak akan peduli padamu." Laura menutup mata, lega bercampur perih. “Terim
Last Updated : 2026-02-06 Read more