Share

Bab 25. Rindu

Penulis: Davian
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-03 22:45:47

Aslan berdiri kaku di tempatnya.

Kata-kata Laura masih menggema di kepalanya, terutama ketika wanita itu menyebut bunga matahari, tanaman kecil yang ia tanam dengan penuh harapan di halaman rumah ini. Harapan yang kini ia sendiri yang paksa patahkan.

Ia tidak menoleh, karena tak memiliki keberanian.

Air mata Laura adalah sesuatu yang tak pernah ia perhitungkan. Ia bisa menghadapi ancaman, intrik bisnis, bahkan kematian tanpa berkedip. Tapi melihat bahu Laura bergetar, mendengar suaranya yang b
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 66. Meninggalnya Alisha

    Hans berlari menyusuri koridor hotel. Kakinya hampir tersandung karpet tebal dua kali karena terburu-buru. Pikirannya kacau. Alisha meninggal? Gadis kecil yang selalu tersenyum itu? Yang selalu memanggilnya "Pak Hans" dengan suara ceria setiap kali bertemu? Gadis kecil yang selalu memberikan kue manis favoritnya pada Hans. Tidak mungkin."Nona Alisha..." lirih Hans dengan mata berkaca-kaca.Sesampainya di depan kamar hotel Aslan, ia mengetuk pintu dengan keras. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tak ada sahutan. Ia mengetuk lagi, lebih keras, sampai seorang tamu hotel membuka pintu kamar sebelah dan melotot kesal."Heh! Ini masih pagi! Apa kau sudah gila?" Pria di kamar sebelah terlihat marah pada Hans. Namun, Hans mengabaikannya."Tuan! Tuan Luca! Ini Hans! Penting, Tuan!"Beberapa detik berlalu. Lalu terdengar suara gemerisik dari dalam. Kunci pintu diputar. Pintu terbuka sedikit, dan yang muncul adalah wajah Sonya dengan rambut acak-acakan, masih mengenakan gaun malam yang sama seperti k

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 65. Bukan Siapa-siapa

    Rick berdiri di pintu, menunduk dalam. Air mata pria besar itu juga jatuh. Ia tak kuasa melihat pemandangan di depannya. Laura yang hancur, memeluk jasad adiknya yang baru saja melindunginya dengan nyawa.Beberapa saat kemudian, Laura mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Alisha untuk terakhir kalinya, seolah ingin mengabadikan setiap detail di memorinya.“Kakak janji, Sha.” bisiknya. “Kakak akan jaga keponakanmu baik-baik. Kakak akan cerita ke dia tentang bibinya yang paling baik sedunia. Tentang bibinya yang pemberani, yang rela berkorban untuk kakaknya. Dan kakak… kakak akan cari keadilan untukmu. Untuk orang yang udah berani menyentuhmu. Untuk orang yang sudah merebut nyawamu. Kakak janji.”Ia mengecup kening Alisha dengan berlinang air mata. Ia tidak bisa berhenti menangis.Perlahan, ia bangkit. Tubuhnya goyah, tapi ia tetap mencoba bertahan. Ia menatap petugas kamar jenazah.“Saya sudah selesai. Tolong…urus semuanya."Petugas itu mengangguk hormat."Saya akan mengurus pemakaman

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 64. Tanpa Cahaya

    Dunia Laura berhenti berputar.Kata-kata dokter itu masuk ke telinganya, tapi otaknya menolak untuk memprosesnya. Tidak. Tidak mungkin. Ini tidak benar.“Apa…apa maksud Dokter?”Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Seperti anak kecil yang berpura-pura tidak mengerti agar kenyataan pahit tidak jadi diucapkan.Dokter itu menatapnya dengan mata penuh simpati. Seorang perawat di belakangnya sudah menunduk, menahan tangis. Mereka sudah terbiasa menyampaikan kabar buruk, tapi tak pernah benar-benar terbiasa melihat keluarga yang hancur.“Nona… saya turut berduka. Adik Nona sudah meninggal dunia. Tim kami sudah berusaha, tapi lukanya terlalu parah. Maaf.”Laura merasa napasnya terenggut paksa dari dalam paru-parunya. Kepalanya berputar, pandangannya mulai mengabur. Telinganya berdengung hebat, suara di sekitarnya terdengar seperti dari dalam terowongan panjang.“Tidak…”Satu kata. Hanya satu kata yang mampu keluar dari bibirnya yang gemetar.“Tidak… tidak, Dok. Maksud Dokter… adik saya…

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 63. Duka Laura

    Mereka berlari ke arah pintu belakang. Namun salah satu penculik yang masih setengah sadar mengambil pistol yang terjatuh.Ia mulai membidik dan mengarahkannya pada Laura.“Berhenti!” teriaknya.Laura menoleh, tubuhnya membeku seketika. Saat suara tembakan memekakkan telinganya.Laura merasa tubuhnya didorong keras.“KAKAK!"Laura jatuh ke lantai, namun ia tak merasakan sakit di tubuhnya. Ia pun menoleh.Alisha berdiri di depannya beberapa detik, lalu tubuhnya perlahan melemah. Darah merembes dari sisi perutnya.“Alisha…” suara Laura bergetar. Ia menyadari kalau Alisha menolongnya dari tembakan itu.Tubuh adiknya ambruk ke pelukannya dengan kondisi perut yang berlumuran darah.“Tidak… tidak… tidak!” Laura menjerit histeris, tangisnya mulai pecah. "Alisha!"Rick segera menembak balik, melumpuhkan pelaku. Namun, semuanya terasa terlambat, ketika ia melihat Laura memeluk Alisha yang terkulai lemah di tangannya.“Bertahan, Sayang… tolong bertahan…” tangisnya pecah.Alisha tersenyum lemah,

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 62. Diculik Lagi

    Ia menyentuh perutnya yang masih rata. “Dan aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh di bawah bayangan pria yang mungkin telah menghancurkan keluarga kita.”Air mata Alisha jatuh. “Kak, aku takut.”“Aku juga,” bisik Laura jujur. “Tapi lebih takut lagi kalau kita tetap di sini.”***Di sebuah kamar hotel mewah, Aslan berdiri memandang jendela kaca tinggi. Kota berkilau di bawahnya.Sonya mendekat dari belakang, memeluknya.“Kau masih memikirkannya, ya?”Aslan tidak menjawab.Ia merasa kosong. Bahkan saat Sonya menyentuhnya, pikirannya tetap pada Laura, pada wajahnya yang penuh air mata.Sonya memutar tubuh Aslan menghadapnya. “Lihat aku Sayang."Tatapan mereka bertemu. Mata Sonya dipenuhi keinginan dan ambisi. Ia sudah lama menginginkan ini. Menginginkan Aslan sebagai seorang pria. Ia ingin dicintai sepenuhnya oleh pria ini.“Kau tidak sendirian malam ini,” bisiknya.Kali ini Aslan tidak mundur, kekacauan hatinya, alkohol dan minuman yang dicampur sesuatu oleh Sonya, membuatnya tak puny

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 61. Klub Malam

    "Aku memang bukan orang baik seperti yang kau pikirkan."Aslan menatapnya. Matanya, Laura tidak bisa membaca apa yang ada di sana. Tapi untuk sesaat, ia melihat sesuatu yang basah di sudut mata pria itu.Mustahil.Aslan tidak mungkin menangis."Kau boleh membenciku," bisik Aslan akhirnya. "Tapi kau tidak akan pergi dari sini. Kau dan anak itu... kau milikku.""AKU BUKAN MILIK SIAPA PUN!""Kau mengandung anakku.""Dan aku akan membesarkannya tanpa kau! Aku akan memberitahunya bahwa ayahnya adalah monster pembunuh!" Laura berteriak, suaranya serak dan pecah.Untuk sesaat, Aslan terlihat seperti baru saja ditampar. Tapi ekspresi itu cepat sirna, digantikan oleh topeng dinginnya yang biasa."Terserah kau mau berpikir apa tentangku. Tapi kau tetap di sini. Kau tidak akan pergi kemana-mana."Ia keluar dari kamar dan menutup pintu. Bunyi kunci diputar dari luar membuat Laura tersentak. Ia berlari ke pintu, mengguncang-guncang gagangnya dengan panik."TIDAK! BUKA PINTU! ASLAN! BUKA PINTU!"Ti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status