BAB 108 Zea terpaku. Kerongkongannya tercekat. Pertanyaan Ibra barusan terasa seperti anak panah yang tepat mengenai sasaran. Di bawah temaram lampu restoran, Ibra menatap Zea lekat. Tatapannya tidak menuntut, namun begitu intens, seolah-olah ia sedang mencoba membaca setiap baris, membuat Zea merasa semakin tersudut. “Ze….” Panggilnya lembut, “Selama ini aku selalu bilang kalau aku cuma mau mendekat. Aku bilang aku cuma mau kamu kasih ruang untuk aku, agar kita bisa saling mengenal lebih jauh, tanpa tekanan.” Zea menelan ludahnya kasar lalu mengangguk pelan, “Iya, Mas. Dan aku menghargai itu.” “Tapi malam ini, setelah liat foto itu... setelah tau rencana perjodohan kalian, aku jadi sadar satu hal,” Ibra menjeda. Zea merasa kerongkongannya semakin kering. Ia lantas menyesap air putihnya, tapi rasa itu tak juga hilang. Tatapan Ibra melembut. Sadar bahwa ia telah membuat gadis di depannya ini gugup. Tapi ia menolak mundur. “Aku nggak bisa terus-terusan main aman. Aku
Last Updated : 2026-04-20 Read more