LOGINIcha buru-buru menghindari area itu dan pergi ke konter lain untuk lanjut memilih ponsel.Di sisi lain, Oslando sedang duduk menunggu dengan bosan. Tatapannya tanpa sadar terus mengikuti gerak-gerik Icha.Melihat Icha berkali-kali memastikan kepada pegawai toko tentang performa ponsel tersebut untuk bermain game, sudut bibir Oslando tak kuasa terangkat sedikit.Icha memilih cukup lama, tetapi tetap tidak menemukan ponsel dalam kisaran anggarannya yang benar-benar memuaskan. Sepertinya, ponsel yang pertama kali direkomendasikan oleh pegawai toko tadi memang yang paling bagus.Ponsel hanyalah barang konsumsi, apalagi Thompson masih seorang pelajar, jadi Icha tidak ingin langsung membelikan ponsel yang terlalu canggih untuknya. Nantinya, tidak akan ada ruang untuk melakukan upgrade lagi.Namun, meskipun sempat berpikir seperti itu, pada akhirnya tindakannya tetap mengkhianati pikirannya sendiri. Dia memutuskan untuk membelikan adiknya ponsel yang terbaik.Saat Icha hendak memanggil pegawa
Setelah meninggalkan tempat itu, Oslando segera mencadangkan seluruh data di ponselnya ke penyimpanan cloud. Setelah itu, dia memformat ponselnya hingga seluruh data di dalamnya terhapus, lalu membuangnya ke tempat sampah.Meskipun Oslando sudah berhasil menghadapi pengujian Victor dengan tenang, Victor adalah tipe orang yang sangat sensitif dan penuh curiga, belum tentu dia benar-benar percaya begitu saja. Jika sampai Victor mengetahui bahwa dirinya juga menerima misi pencarian orang yang sama, masalahnya akan menjadi rumit.Sebenarnya, tadi Oslando sempat ragu sejenak. Bagaimanapun, Victor adalah abang yang sangat dia hormati. Dia tidak ingin mengkhianati Victor.Namun, Oslando sudah membaca data Petra. Pria itu hanyalah seorang pria biasa, tapi saat mendengar Victor sebelumnya mengeluarkan perintah untuk mencari Petra, Oslando juga mendengar bahwa Victor memberikan perintah tambahan, setelah berhasil menemukan Petra, mereka harus membuatnya menghilang.Jika apa yang dikatakan Chiar
Mengenai uang, asalkan Sky Society memiliki uang, Oslando juga tidak akan kekurangan uang untuk selamanya.“Seorang teman lama.” Oslando tidak menjelaskan dengan terlalu detail. Dia mengeluarkan kotak rokok dari dalam saku celananya, lalu menggantungkan sebatang rokok di mulut. Hanya saja, dia tidak menyalakannya. “Hanya sebuah misi yang gampang. Disuruh cari seseorang saja. Aku akan kembali dalam tiga atau lima hari.”Nada bicara Oslando terdengar datar, seolah-olah hanya sebuah misi yang sangat sepele.Victor bersandar di kursi bos yang lebar. Dia sangat memahami Oslando. Semakin santai deskripsinya, biasanya misi akan semakin tidak gampang.Selain itu, Victor juga sangat penasaran dengan latar belakang orang yang bisa membuat Oslando turun tangan sendiri menjalankan “misi sepele", apalagi dengan mengambil izin.“Cari seseorang?” ucap Victor dengan perlahan. Tatapannya tertuju pada diri Oslando. “Kamu juga tahu belakangan ini aku juga sedang mengambil pekerjaan mencari orang. Orang i
Ketika melihat wanitanya sedang mengeluh dengan nada manja, tatapan Sean seketika berubah menjadi lembut. Dia berkata dengan senyum penuh kasih sayang, “Nggak, citramu selalu yang terbaik di keluarga kami. Kalau kamu nggak percaya, nanti aku pergi nanya Ibu ya?”“Sean!”“Sudahlah, aku nggak bercanda lagi.”Sean berdiri, lalu merapikan kemeja dan rambut berantakan Rachel. Ketika melihat wajah Rachel masih memerah dan terlihat sisa tatapan menggoda di dalam tatapannya, Sean tak kuasa menahan dirinya untuk mengecup keningnya lagi, kemudian menggandeng tangannya berjalan keluar kamar.Chiara sudah menunggu di depan komputer. Raut wajahnya kelihatan lebih serius dari sebelumnya.Balasan email itu sangat singkat. [ Siapa kamu? ]Sean memang sudah mencantumkan kode rahasia dalam emailnya, tetapi dari gaya penulisannya yang berbeda, orang itu langsung mengenali bahwa email tersebut bukan dikirim oleh Chiara.Chiara terpaksa menghubungi mereka secara langsung.Begitu mengetahui bahwa yang mengh
Sean menatap Rachel dengan terdiam. Tatapannya begitu dalam, seolah-olah ingin membaca setiap detail ekspresi wajah Rachel.Rachel melirik si pria sekilas. Dia tanpa sadar merasa gugup. Namun saat Rachel ingin bersuara lagi, dia malah melihat Sean tiba-tiba mengangkat tangannya. Telapak tangan hangat Sean mengusap pipi Rachel.“Rere.” Akhirnya Sean bersuara. Suaranya terdengar rendah dengan sedikit kelembutan. “Apa kamu tahu, saat kamu berbohong, bulu matamu akan bergetar dengan sangat cepat.”Bulu mata Rachel bergetar dengan cepat, seperti sayap kupu-kupu yang sedang mengepak karena kaget saja.“Sean ….” Hati Rachel terasa berat. Apa semuanya sudah tidak bisa disembunyikan lagi?Rasa cemas di dalam tatapan pria itu membuat hati Rachel semakin kacau. Dia bukan bermaksud untuk merahasiakannya dari Sean.Hanya saja, Rachel sangat memahami temperamen Sean. Dia takut demi menjaga Rachel dan anak, Sean akan melakukan keputusan yang gegabah.“Kamu takut aku akan cemburu, makanya kamu nggak p
Mengetahui Sean suka memaksakan diri, Rachel selalu memperhatikan raut wajahnya."Aku nggak capek. Selama bersamamu, melakukan apa pun nggak akan terasa capek," sahut Sean dengan suara pelan.Bisikan mereka segera menarik perhatian Chiara. "Sudah, kalian sama-sama istirahat sana. Biar aku yang tunggu kabarnya," ujar Chiara sambil menggiring mereka dari ruang tamu menuju kamar tidur.Rachel ingin menyela, tetapi Sean tidak membantah. Dia langsung menggenggam tangan Rachel dan berkata, "Terima kasih, Ibu."Chiara tersenyum senang dan melambaikan tangan ke arah mereka.Rachel juga tidak punya pilihan selain menurut. Sebenarnya, dia sama sekali tidak bisa beristirahat selama situasi ini belum terselesaikan. Namun, saat kembali ke kamar, Sean tiba-tiba batuk. Rachel pun segera memeluknya dengan wajah cemas. "Apa kamu merasa nggak enak badan? Aku akan panggil ....""Sudah kupanggil," sela Sean sambil menghentikan Rachel.Sebenarnya, itu adalah efek samping dari mengonsumsi obat. Walaupun k







