เข้าสู่ระบบXander bekerja dengan sangat efisien. Begitu Rachel dan Sean kembali ke hotel, dia sudah menelepon dan mengatakan bahwa Anwar sudah menjelaskan semuanya.Anwar sama sekali tidak bernyali. Begitu diculik bawahan Sean, dia langsung ketakutan dan memohon belas kasihan sepanjang jalan. Setelah itu, dia menjawab setiap pertanyaan dengan patuh.Secara garis besar, situasinya sesuai dengan dugaan Rachel dan Sean. Anwar selalu menaruh dendam pada Romy. Setelah Romy berhenti mendukungnya, dia mencoba segala cara untuk membalas dendam. Insiden kebocoran gas beracun adalah bentuk balas dendam Anwar untuk merusak reputasi Romy. Namun, Anwar juga sangat panik saat itu. Dia tidak cukup profesional dan gagal menimbulkan akibat serius. Selama bertahun-tahun, Anwar terlilit utang dan mau tak mau mencari Romy lagi. Akan tetapi, Romy sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan dan sudah lama kehilangan rasa bersalah terhadap sahabat-sahabatnya.Makin memikirkannya, Anwar makin kesal. Jadi, dia mencari
Mindy menyadari bahwa Rachel telah mengumpulkan banyak informasi, bahkan mungkin menyuruh orang untuk terus mengawasinya. Sepertinya Rachel memang berniat melawannya sampai akhir.Namun, Mindy tidak menyangka bahwa Rachel akan melakukan sesuatu yang begitu mengejutkan. Wanita itu berani menculik orang tepat di bawah pengawasannya! "Rachel, apa maumu? Kamu pikir kamu bisa menang dengan menculik saksi kunciku?"Melihat wajah Mindy yang merah padam karena marah, Rachel menyahut dengan tenang, "Saksi kunci apa? Jangan-jangan .... Jangan-jangan kamu juga sudah tahu soal musuh bebuyutan ayah Sean? Karena dendam pribadi, dia selalu mengincar Keluarga Januardi." "Dia bahkan menyewa orang di dark web untuk timbulkan masalah bagi kami .... Oh, kalau nggak salah, namanya Anwar Wijaya."Saat Rachel menyebut nama itu dengan santai, sorot mata Mindy sudah sepenuhnya menggelap. Dia tetap diam, tetapi tatapannya memancarkan niat membunuh yang pekat.Sean menatap Mindy dengan dingin. Dia menggenggam
Sean melangkah maju dari belakang, sementara orang-orang di sampingnya juga bergerak untuk menghalangi jalan Mindy.Sean mengangguk pelan. "Saat ini, tentu saja nggak ada hal yang lebih penting dari membahas penyebab kematian ayah Rachel, 'kan?"Mindy langsung terdiam begitu mendengar ucapan Sean. Rachel juga memanfaatkan momen itu untuk melanjutkan, "Bu Mindy, aku datang untuk bahas soal ayahku. Aku juga sudah temukan sejumlah informasi dan ingin mendiskusikannya secara rinci denganmu. Gimanapun, tenggat waktu sepuluh hari itu sudah makin dekat. Ada beberapa hal yang perlu kutanyakan padamu."Mindy tertawa. "Kurasa, kita nggak perlu berkomunikasi. Lagian, sampai kebenarannya terungkap, aku nggak ingin berada di dekat keluarga orang yang dicurigai membunuh Vino.""Karena kita sama-sama mau temukan kebenarannya, sebaiknya kita kesampingkan dulu rasa permusuhan ini." Rachel menatap lurus ke mata Mindy dan tidak mau mengalah. "Soal percaya atau nggak, kamu boleh dengar dulu. Gimanapun, k
Berdasarkan waktu kontak terakhir Oslando dengan Chiara, dapat disimpulkan bahwa hilangnya orang-orang tersebut berkaitan dengan Petra. Kemungkinan besar, ada kelompok lain yang sudah bergerak, tetapi Oslando berhasil merebut orang dari tangan mereka dan berhasil mendahului mereka. Jika demikian, Oslando yang bertindak sendirian bisa berada dalam bahaya besar.Sean ingin mengirim bala bantuan, tetapi gerakan Oslando sulit ditebak. Selain itu, dia juga menolak membiarkan orang lain mencampuri operasinya. Saat ini, dia sama sekali tidak bisa dihubungi.Rachel tidak bisa hanya duduk menunggu dalam diam. Dia menghubungi orang-orangnya untuk mencari tahu situasi Mindy. Jika sesuatu benar-benar terjadi pada Oslando, Mindy pasti akan melakukan sesuatu.Benar saja, tim Rachel mengirimkan beberapa foto. Mindy tidak tinggal di manor selama beberapa hari terakhir. Dia sedang menjamu teman di sebuah hotel yang berjarak puluhan kilometer jauhnya. Sedekat apa pun hubungan mereka, Mindy juga tidak mu
Sean lagi-lagi menertawakan dirinya sendiri dengan nada yang sengaja dibuat santai. Namun, jika dia sampai berbicara seperti itu, apa yang dikatakan Farhan kepadanya pasti jauh lebih kasar dan menyakitkan. Pria itu sudah terbiasa menggunakan nada santai untuk menutupi tekanan yang dia rasakan. Kilasan emosi melintas di mata Rachel. Dia membenamkan wajahnya di bahu pria itu. "Apa yang dia katakan padamu? Apa dia bicara kasar dan buat kamu sedih?""Nggak." Sean mengelus rambut Rachel yang panjang dan halus dengan sabar dan lembut. "Aku pernah dengar hal-hal yang jauh lebih buruk. Kakekmu sebenarnya cukup sopan padaku.""Kamu cuma pura-pura tegar ....""Sebenarnya, aku ngerti sudut pandang kakekmu. Dia punya prasangka terhadap ayahku, tapi aku malah berhasil memenangkan hati cucu perempuannya .... Wajar saja dia sulit menerimanya."Sean awalnya terdengar serius, tetapi nadanya berubah menjadi penuh godaan di akhir kalimat."Sean, kenapa ... kamu jadi begitu nggak tahu malu?""Apa aku sal
Yovela tidak berani menghindar. Dia menerima pukulan itu tepat di betisnya. Rasa sakit membuatnya terkesiap. Namun, dia tetap menahan rasa sakit dan segera menunduk untuk meminta maaf."Kamu juga mau mengkhianatiku? Memangnya aku nggak cukup baik terhadapmu?"Farhan berjalan perlahan ke arah Yovela, selangkah demi selangkah. Orang di sampingnya segera mengembalikan tongkatnya.Yovela tidak berani mendongak. "Tentu saja tidak, Pak Farhan. Anda sudah seperti ayah saya. Saya hanya akan mengabdi kepada Anda seumur hidup."Farhan mencibir, "Kenapa kamu nggak hentikan dia?""Mengingat situasi saat ini, demi menjaga reputasi Anda ... kita tidak bisa menahan Bu Rachel dengan paksa," jelas Yovela dengan tergesa-gesa.Sebenarnya, Farhan juga tahu dia tidak bisa mengendalikan Rachel saat ini. Namun, kenyataan bahwa dia tidak bisa mengendalikan Rachel justru membuat rasa frustrasinya makin besar. Yovela hanyalah sasaran amarahnya.Farhan menatap Yovela dengan dingin cukup lama sebelum berbalik dan







