Kyai Agus tersenyum lebar, raut wajahnya memancarkan kelegaan dan rasa hormat yang mendalam."Terima kasih, Tuan Kukuh. Kalau begitu, saya pamit masuk ke dalam dahulu," ucap Kyai Agus dengan nada hangat. Ia lalu mengangguk sopan ke arah Ratih. "Silakan Tuan Kukuh menemani Nona Ratih untuk melanjutkan melihat-lihat pameran ini. Kita bertemu lagi nanti malam.""Sama-sama, Kyai Agus," balas Kukuh sopan, sedikit menundukkan kepalanya.Rombongan Kyai Agus pun beranjak pergi, masuk ke dalam restoran VVIP tersebut. Di barisan paling depan, Gilbert sang pemilik restoran berjalan dengan postur membungkuk dan langkah bergegas, memandu rombongan itu secara personal dengan keringat dingin yang masih tersisa di dahinya.Sepeninggal rombongan itu, suasana di lorong kembali lengang. Kukuh memutar tubuhnya menghadap Ratih, memasukkan undangan eksklusif itu ke dalam saku jaketnya."Terus, kita ke mana lagi ini, Tih?" tanya Kukuh santai, seolah baru saja mendapat brosur diskon minimarket alih-alih unda
Read more