Teilen

Bab 148

last update Veröffentlichungsdatum: 04.06.2026 21:22:53

Kyai Agus tersenyum lebar, raut wajahnya memancarkan kelegaan dan rasa hormat yang mendalam.

"Terima kasih, Tuan Kukuh. Kalau begitu, saya pamit masuk ke dalam dahulu," ucap Kyai Agus dengan nada hangat. Ia lalu mengangguk sopan ke arah Ratih. "Silakan Tuan Kukuh menemani Nona Ratih untuk melanjutkan melihat-lihat pameran ini. Kita bertemu lagi nanti malam."

"Sama-sama, Kyai Agus," balas Kukuh sopan, sedikit menundukkan kepalanya.

Rombongan Kyai Agus pun beranjak pergi, masuk ke dalam restoran
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 311

    "Gila, dingin banget hawanya! Padahal kita baru sampai di lerengnya doang," keluh Farhan sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Gigi pemuda berkacamata itu bergemeretak menahan udara malam pegunungan yang menusuk."Namanya juga kawasan pegunungan Batu, Han. Angin yang turun dari celah hutan pinus di sini memang lumayan bikin menggigil," jawab Kukuh santai. Ia menurunkan ransel carrier berkapasitas enam puluh liter dari punggungnya dan meletakkannya di atas tanah berumput."Kamu kok kelihatan biasa aja sih, Kuh? Nggak kedinginan apa?" Farhan menatap sahabatnya itu dengan heran."Aku kan dari desa. Sudah biasa kena angin malam begini," Kukuh tersenyum lugu, merajut alibinya dengan sempurna. Tentu saja, hawa dingin ini sama sekali tidak bisa menembus sirkulasi energi Rajah Getih di dalam tubuhnya.Mereka baru saja tiba di basecamp Pendidikan Dasar (Diksar) Mapala Universitas Mahkota setelah beberapa minggu mereka mendaftar UKM itu. Area lapang yang dikelilingi rimbunnya pohon

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 310

    "Kuh, ayolah! Kamu masa kuliah cuma numpang lewat dari gerbang ke kelas, terus lanjut kerja paruh waktu yang nggak jelas itu? Sekali-kali ikut UKM biar ada pengalaman!" seru Farhan sambil menarik-narik lengan kemeja Kukuh di tengah keramaian halaman kampus."Bukannya aku nggak mau, Farhan. Jadwalku kan lumayan padat," jawab Kukuh santai.Pemuda itu baru saja melewati malam yang menegangkan membereskan pengkhianatan Manajer Hendra di perusahaan mertuanya. Membayangkan harus menambah kegiatan kampus setelah mengirim seseorang ke Jagalan terasa sedikit merepotkan."Padat apanya? Ayolah, Mapala kita ini terkenal sering bikin ekspedisi keren. Dengar-dengar bulan depan agendanya eksplorasi jalur pendakian di sekitar kawasan Batu. Kamu tahu kan daerah Batu? Udaranya sejuk banget, lanskap pemandangannya luar biasa, belum lagi area hutannya yang masih asri! Kapan lagi kita bisa jalan-jalan eksplorasi alam gratis?" bujuk Farhan dengan mata berbinar-binar penuh harap.Kukuh terdiam sejenak. Meny

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 309

    Pagi itu, suasana di ruang kerja pribadi Adiwangsa di mansion keluarga Cokro terasa lebih tegang dari biasanya. Tirai tebal burgundy dibiarkan setengah tertutup, menghalangi cahaya matahari pagi.Kukuh berdiri tenang di seberang meja kerja kayu mahoni raksasa. Di atas meja, tepat di hadapan Adiwangsa, tergeletak kantong plastik kedap udara berisi buntelan kain merah darah yang basah dan masih memancarkan sisa aura hitam."Jadi, maksudmu Manajer Hendra orang yang sudah bekerja di bawah payung perusahaanku selama bertahun-tahun adalah musuh dalam selimut?" tanya Adiwangsa, kening berkerut dalam, nadanya penuh keraguan.Di samping Adiwangsa, Dian yang baru masuk ke ruangan memandangi buntelan merah itu dengan tatapan menyelidik."Benar, Pa," jawab Kukuh datar. "Buntelan ini medium kutukan Rajah Sepi. Kalau saya tidak mengambilnya tepat waktu semalam, seluruh pasokan air murni di tangki utama akan tercemar. Produk skincare yang diluncurkan hari ini tidak akan laku, dan Korporasi Cokro aka

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 308

    Udara di koridor produksi lantai dasar lebih sejuk dan steril dibandingkan lobi utama. Dengung mesin berteknologi tinggi terdengar konstan dari balik dinding kaca tebal. Di sinilah jantung Korporasi Cokro berdetak tangki-tangki pencampur raksasa berbahan stainless steel berdiri kokoh, siap mengolah ribuan liter bahan baku menjadi formula skincare bernilai triliunan rupiah.Kukuh sudah mondar-mandir di luar ruang produksi sejak pagi, berdalih mengecek kebersihan lantai. Troli kuning Kukuh terparkir rapi di sudut lorong, matanya memindai setiap staf pabrik yang berlalu-lalang.Target yang Kukuh tunggu akhirnya muncul.Dari ujung lorong, Hendra melangkah tergesa. Bukan jas rapi seperti kemarin kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku, wajah tegang di balik raut angkuhnya yang biasa. Hendra berjalan lurus ke pintu akses berlapis baja, gerbang utama ruang produksi."Selamat pagi, Pak Hendra," sapa pegawai yang berjaga di pos pengecekan akses, sedikit terkejut melihat petinggi R&D

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 307

    "Ngene, Le Kukuh," suara Pak Kasiman terdengar parau dan sangat berhati-hati, seolah pria tua itu takut ada yang menguping pembicaraan mereka dari alam lain. Tarikan napasnya terasa berat di seberang sambungan telepon. "Sopo seng nduwe bubuk sengon? Sak ngertine Bapak, bubuk sengon iku lek ndak enek tujuan elek yo mung bubuk kayu biasa. Tapi... lek iku maeng digawe gawe tujuan elek, bubuk sengon iku jeneng liyo soko Rajah Sepi."Mendengar nama itu, Kukuh menajamkan pendengarannya. Ia berdiri bersandar di dinding bata kusam di belakang warung kopi, menjauh dari bisingnya jalanan pagi. "Rajah Sepi, Pak?""Iyo, Le. Dadi iku iso nggawe usahane uwong mandek mak bedunduk. Ndak enek seng tuku, rezekine ditutup rapet. Aurane dadi panas, wong seng liwat utowo arep tuku dadi wegah. Usaha opo wae bakal bangkrut sak nalika," jelas Pak Kasiman dengan nada memperingatkan.Otak taktis Kukuh langsung menyusun kepingan teka-teki itu dengan sempurna. Pantas saja pria misterius berjas hitam semalam meny

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 306

    "Bapak yakin mau turun tangan sendiri malam ini? Bapak kan Kepala Kebersihan yang baru, urusan lembur membersihkan saluran ventilasi AC di lantai tujuh itu biar dikerjakan anak-anak saja, Pak. Capek dan kotornya minta ampun, lho."Suara Pak Joko, pengawas cleaning service giliran malam, terdengar ragu sekaligus segan menatap pemuda di hadapannya. Seragam biru yang Kukuh kenakan tampak biasa dan sedikit kedodoran, tapi emblem "Kepala Kebersihan" di dada kirinya cukup untuk membuat puluhan pekerja kebersihan di menara ini segan.Kukuh tersenyum tipis, menepuk bahu pria paruh baya itu."Tidak apa-apa, Pak Joko. Justru sebagai kepala yang baru, saya harus tahu seberapa berat medan kerja tim kita, dan mengevaluasi langsung standar kebersihan di area vital seperti laboratorium R&D," jawabnya meyakinkan. "Malam ini biar saya yang inspeksi ke atas. Bapak dan tim fokus saja di lobi dan parkiran."Pak Joko mengangguk hormat, kagum dengan bos barunya yang rela pegang alat pel sendiri, lalu menye

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 1

    "Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 103

    Jari polisi itu gemetar hebat saat menekan tombol terima di layar ponselnya. Belum sempat ia mengucapkan salam pembuka, sebuah suara bariton yang sangat menggelegar meledak dari seberang panggilan itu adalah suara Kapolda, pimpinan tertingginya di kepolisian provinsi ini."Kamu bosan hidup atau bosa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 28

    "Sini, Pak Supri! Sebelah sini!"Kukuh melambaikan tangannya tinggi-tinggi memecah keramaian. Di bawah terik matahari menjelang siang yang mulai menyengat kulit, sebuah motor bebek keluaran lama berwarna hitam melaju pelan membelah jalanan aspal. Asap knalpotnya mengepul tipis, berbaur dengan debu

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 26

    Di meja sebelahnya, tepat di atas mangkok seorang bapak yang sedang makan dengan sangat lahap, bertengger sebuah sosok yang membuat darah Kukuh berdesir. Sosok itu berbadan sangat kurus hingga tulang rusuknya menonjol, dengan rambut putih yang sangat jarang dan acak-acakan. Matanya merah menyala, m

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status