"Ayuk, Tih, kita lihat pameran kalung di sebelah sana," ajak Widya dengan antusias, tangannya menunjuk ke arah deretan etalase bercahaya di bagian tengah aula."Boleh, ayuk, Wid. Siapa tahu ada yang bagus dan cocok," balas Ratih.Sebelum melangkah pergi, Ratih menoleh ke arah Kukuh yang masih berdiri santai mengamati sekeliling. "Kuh, aku mau lihat-lihat di sebelah sana dulu, ya. Kamu terserah mau lihat-lihat di mana pun, keliling saja dulu.""Oke, siap," balas Kukuh dengan senyum simpul. Ia memang lebih suka berkeliling sendiri mencari barang antik atau batuan yang memancarkan aura khusus, daripada harus terjebak di tengah obrolan sosialita. Kukuh pun melangkah ke arah deretan jam tangan dan pusaka, berpisah arah dengan Ratih.Akhirnya, Ratih, Widya, dan Sadewa berjalan menuju area pameran perhiasan kalung high-end."Ehhh, Tih! Ini bagus banget kalungnya!" seru Widya begitu matanya tertuju pada sebuah manekin berlapis beludru hitam. "Lihat deh, liontinnya pakai sapphire warna biru be
Last Updated : 2026-05-27 Read more