"Asapnya nempel di baju, Kuh. Tapi... baunya memang gila sih," kata Ratih sambil mengipas-ngipas udara di depannya, mencoba mengusap bau asap arang yang mengepul. Kukuh tertawa kecil, menuangkan teh manis ke dalam gelas plastik. "Namanya juga ikan bakar bumbu rujak legendaris, Tih. Kalau di restoran bintang lima, rasanya kalah sama yang di sini.""Iya, iya. Pantesan kamu betah," sahut Ratih, matanya berbinar menatap sambal merah dan lalapan yang baru diantar. "Lumayanlah ya, setelah seminggu ini kita cuma makan di ruang VVIP rumah sakit dan perjamuan kaku.""Namanya juga liburan singkat, Tih. Nikmati saja," balas Kukuh. Ia menoleh ke arah pemilik warung. "Pak Hadi! Ikan kakap sama cumi bakar dua, Pak! Sambalnya yang nendang!""Siap, Mas Kukuh! Tunggu lima menit ya!" balas Pak Hadi dari balik etalase, wajahnya cerah melihat pelanggan setianya datang.Namun, belum sempat mereka mencicipi makanan, suara bentakan keras memecah suasana warung yang sedang ramai."Heh, Pak Hadi! Jatah keama
Read more