"Satu cecunguk Mataram berhasil kutidurkan selamanya!" dengus Kyai Agus puas, menurunkan kepalan tangannya yang masih mengepulkan uap panas dari Ajian Pukulan Brojo Wesi."Kerja bagus, Kyai! Celah pertahanan mereka sudah hancur total!" balas Kukuh cepat. Pemuda itu memutar pergelangan tangan kanannya, membuat Gelang Naga Lohita bergemerincing nyaring. "Sekarang kita habisi sisa barisan depan mereka!"Di sudut lain pelataran, Pak Jaka yang masih sibuk memutar gadanya untuk menangkis hujan anak panah ikut berteriak girang. "Bagus sekali, Kyai! Tinggalkan pemanah pengecut ini padaku, kalian urus saja pembawa keris itu!"Namun, bukannya panik melihat rekannya tumbang dengan tulang rusuk hancur, sang pembawa keris justru tertawa pelan. Tawanya mengalun serak, dingin, dan memancarkan aura kematian yang teramat pekat."Kalian pikir, hanya karena berhasil menipu mata saudara seperguruanku dengan kilatan cahaya murahan, kalian sudah memenangkan pertempuran ini?" desis pembawa keris itu. Kain p
Read more