LOGIN"Bapak, hari ini cuacanya bagus."Kukuh duduk bersila di depan nisan sederhana itu. Jari-jarinya menyentuh permukaan batu yang masih dingin oleh embun pagi. Di atas nisan, sehelai daun kamboja kering tergeletak, jatuh dari pohon tua yang menaungi makam itu sejak puluhan tahun lalu."Saya bawa kopi. Kopi tubruk yang Bapak suka. Gula dua sendok. Tidak pakai susu." Kukuh meletakkan gelas plastik di samping nisan. "Ratih bilang saya harus kurang-kurangi ngomong sama nisan. Tapi saya bilang, kalau nggak ngomong sama Bapak, nanti saya lupa suaranya Bapak."Angin pagi berhembus pelan. Membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja yang sudah mulai layu.Kukuh tersenyum. Senyum kecil yang tidak dipaksakan."Tiga hari yang lalu, saya sudah selesaikan semuanya, Pak. Rantai itu sudah putus. Bowo, Dimas Aji, dua belas praktisi itu... semuanya sudah bebas. Bukan bebas dari penjara. Bebas dari..."Kukuh berhenti. Mencari kata yang tepat."...dari suara yang selama ini menyuruh mereka membenci kita."K
"Enam pasien di Bangsal C sudah pulih total, Mas Kukuh."Dokter Adhi meletakkan tablet di atas meja aluminium Lantai 41, menunjuk grafik vital yang semuanya berwarna hijau. Senyum dokter muda itu lebar, lega, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan operasi paling rumit dalam kariernya."Tidak ada residu energi gelap. Tidak ada jejak teluh. Tidak ada bekas rantai." Dokter Adhi menatap Kukuh dengan mata berbinar. "Bersih total. Seolah mereka tidak pernah tersentuh santet sama sekali."Kukuh mengangguk pelan. Pemuda itu masih duduk di tepi meja batu, kemeja kerjanya sedikit kusut setelah shift pagi yang panjang. Di balik kemejanya, liontin dua daun kamboja berdenyut hangat. Stabil. Tenang."Bagaimana dengan tekanan darah mereka?" tanya Kukuh."Normal semua. Saturasi oksigen normal. Tidak ada aritmia." Dokter Adhi menggeleng takjub. "Saya sudah cek tiga kali, Mas. Bahkan lebih bersih dari pasien yang belum pernah sakit. Seperti tubuh mereka di-reset."Kukuh tersenyum tipis. "Bukan
Suara mesin dua SUV hitam memecah keheningan malam di pelataran rumah joglo tua itu. Lampu sorot kendaraan menyapu area yang masih berbau anyir darah dan sisa energi gaib yang belum sepenuhnya menguap.Pintu mobil terbuka. Kyai Agus melangkah turun dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Di belakangnya, Pak Jaka mengikuti dengan postur tegap, matanya langsung menyapu seluruh pelataran dengan kewaspadaan seorang prajurit.Namun begitu mata Kyai Agus menangkap pemandangan di hadapannya, langkah pria sepuh itu terhenti.Di tengah pelataran, Dimas Aji Sasmita berlutut. Tubuh konglomerat itu gemetar, kepalanya menunduk dalam, kedua tangannya terbuka di atas paha seperti orang yang menyerah total. Di sekelilingnya, dua belas praktisi bayaran yang tadinya terikat rantai gaib kini duduk bersila dengan wajah kosong namun bebas tanpa bekas luka sedikit pun. Dan di sudut terdekat, Bowo terduduk di lantai tanah, matanya merah, napasnya tersengal, tangannya masih gemetar.Kyai Agus menelan ludah
Kukuh berjongkok.Bukan berdiri di atas Bowo. Bukan menatap dari ketinggian. Ia menurunkan tubuhnya hingga matanya sejajar dengan mata pria yang berlutut di depannya. Dua manusia. Sama-sama bernapas. Sama-sama berdarah.Bowo mendongak. Wajahnya hancur. Bukan hanya karena pukulan. Ada sesuatu yang lebih dalam yang retak di sana. Matanya merah. Basah. Bukan oleh darah. Oleh sesuatu yang sudah lama ia kubur dan kini terpaksa muncul ke permukaan.Kukuh menatap mata itu. Lama. Tanpa berkedip."Kau membunuh Bapakku."Tiga kata. Pelan. Datar. Tanpa getaran amarah. Tanpa desis dendam. Tanpa api yang menyala di baliknya. Hanya fakta. Dingin dan telanjang seperti pisau bedah yang diletakkan di atas meja stainless steel.Bowo menelan ludah. Jakunnya naik-turun. Bibirnya bergetar, tapi tidak ada kata yang keluar.Kukuh tidak membutuhkan kata dari Bowo. Ia sudah tahu. Ia sudah melihat semuanya. Kertas bertulisan "Keluarga Sekar Taji" yang ditemukan di rumah Pak Kasiman. Santet Rawe Geni yang mengg
Langkah Kukuh terhenti di ambang pintu.Belum sempat kakinya melewati batas kayu jati yang memisahkan ruangan itu dengan lorong di luarnya, sebuah suara meledak dari belakangnya. Bukan teriakan amarah. Bukan raungan dendam.Suara itu pecah. Retak. Seperti kaca yang dihantam dari dalam."TUNGGU!"Kukuh berhenti. Tidak berbalik. Hanya berhenti.Di belakangnya, terdengar suara gesekan lutut yang menyeret lantai. Lalu langkah tertatih. Lalu napas yang tersengal-sengal, berat, seperti paru-paru yang sudah terlalu lama tidak menghirup udara bersih.Bowo bangkit.Pemuda itu berdiri dengan tubuh yang bergoyang. Kemeja batiknya compang-camping, sobek di bagian bahu dan dada. Darah kering mengering di pelipisnya. Tangannya yang kanan masih menggenggam sisa Cermin Perunggu Kalacakra yang kini retak menjadi tiga bagian. Tapi matanya. Matanya yang membuat Kukuh akhirnya berbalik.Tidak ada lagi api arogansi di sana. Tidak ada lagi kilat kesombongan yang dulu selalu menyala setiap kali Bowo menatap
Kepada seluruh pembaca novel saya. mohon maaf novel libur selama 2 hari dan akan kembali di lanjutkan hari senin tanggal 21.Terimakasih
Jari polisi itu gemetar hebat saat menekan tombol terima di layar ponselnya. Belum sempat ia mengucapkan salam pembuka, sebuah suara bariton yang sangat menggelegar meledak dari seberang panggilan itu adalah suara Kapolda, pimpinan tertingginya di kepolisian provinsi ini."Kamu bosan hidup atau bosa
Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha
Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura
Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul ka







