INICIAR SESIÓNKukuh membuka matanya. Air mata masih mengalir. Tapi tangannya tidak gemetar. Kakinya tidak goyah. Dan di matanya, ada sesuatu yang bergerak. Bukan keberanian. Bukan pengorbanan. Sesuatu yang lebih sederhana. Lebih mendasar.Penerimaan."Kalau saya menyerahkan satu kenangan," ucap Kukuh pelan. "Pak Kasiman akan hilang dari ingatan saya. Selamanya.""Tidak." Eyang Amerta menggeleng. "Pak Kasiman tidak akan hilang. Namanya akan tetap ada. Wajahnya akan tetap ada. Suaranya akan tetap ada. Yang hilang hanya satu momen. Satu potongan kecil dari keseluruhan. Dan kau tidak akan pernah tahu potongan mana yang hilang. Kau hanya akan tahu bahwa ada sesuatu yang kosong. Dan kekosongan itu tidak akan pernah bisa diisi."Kukuh menelan ludah. Tenggorokannya terasa seperti dicekik. Bukan oleh tangan. Oleh keputusan yang harus ia buat."Boleh saya memilih kenangan mana?" tanya Kukuh."Ya."Kukuh menutup matanya lagi. Dan kali ini, ia tidak mencari kenangan yang paling indah. Tidak mencari kenangan ya
"Ujian keempat bukan ujian kekuatan," ucap Eyang Amerta. Suaranya datar. Tenang. Seperti seseorang yang sedang menjelaskan sesuatu yang sudah sangat lama ia pikirkan. "Bukan ujian keberanian. Bukan ujian kesabaran. Ujian keempat adalah ujian kehilangan."Kukuh menatap sosok tua di depannya. Menatap ukiran rajah putih yang menyala di seluruh tubuhnya. Menatap mata yang sangat dalam dan sangat sabar."Kehilangan apa?" tanya Kukuh.Eyang Amerta tidak langsung menjawab. Sosok tua itu mengangkat satu tangannya. Jari-jarinya yang kurus dan berbuku-buku terangkat. Menunjuk ke dada Kukuh. Ke liontin kamboja yang berdenyut di balik kemeja."Kenangan," jawab Eyang Amerta.Satu kata. Sederhana. Tapi beratnya seperti gunung yang diletakkan di atas dada.Kukuh membeku."Rajah Getih tidak diukir dengan darah biasa, Nak Kukuh," lanjut Eyang Amerta. "Kau sudah tahu itu. Darah pewaris sebelumnya mengalir di ukiranmu. Darah Wiratama. Darah Lawa Pratiwi. Darah dua puluh satu generasi sebelummu. Tapi unt
"Berapa umurmu, Nak Kukuh?"Pertanyaan itu keluar tanpa peringatan. Eyang Amerta Jati Ludira sudah duduk kembali di tengah rongga. Kakinya bersila. Tangannya terlipat di atas lutut. Dan di kulitnya, ukiran rajah putih itu masih menyala. Pelan. Stabil. Seperti bara yang tidak pernah padam tapi juga tidak pernah membakar.Kukuh menatap sosok di depannya. Masih belum percaya bahwa ini nyata. Masih belum yakin bahwa sosok yang duduk tiga langkah di depannya adalah Gen Satu Rajah Getih. Orang yang menciptakan ukiran darah itu. Orang yang sudah hidup lebih lama dari sejarah yang tercatat."Dua puluh dua," jawab Kukuh.Eyang Amerta mengangguk. Pelan. Seperti seseorang yang sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya."Dua puluh dua," ulang Eyang Amerta. "Raja Raktaprawira datang padaku ketika ia berusia dua puluh tiga. Satu tahun lebih tua darimu."Kukuh menelan ludah. "Anda mengenal Raja Raktaprawira.""Mengenalnya?" Eyang Amerta tersenyum. Senyum yang sangat tua. Sangat dalam. Seperti ses
Sosok itu tersenyum. Senyum yang sangat tua. Sangat sabar. Sangat hangat."Duduklah, Nak Kukuh. Kau sudah berjalan sangat jauh."Kukuh menatap sosok di depannya. Menatap ukiran rajah putih yang menyala di seluruh tubuhnya. Menatap mata yang sangat dalam dan sangat tenang. Dan perlahan, Kukuh duduk. Bersila. Di lantai batu yang hangat."Kau Eyang Amerta?" tanya Kukuh.Sosok itu tidak menjawab. Hanya tersenyum. Dan kemudian wajahnya berubah.Bukan berubah seperti topeng yang dilepas. Bukan berubah seperti ilusi yang pudar. Berubah seperti cermin yang tiba-tiba memantulkan sesuatu yang berbeda. Dan di tempat sosok tua itu tadi duduk, kini duduk seseorang yang sangat Kukuh kenal.Dirinya sendiri.Kukuh membeku.Bayangan itu tersenyum. Senyum yang sama. Mata yang sama. Wajah yang sama. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Di mata bayangan itu, tidak ada api. Tidak ada tekad. Tidak ada alasan untuk terus berdiri.Hanya kelelahan."Halo, Kukuh," ucap bayangan itu. Suaranya sama. Persis sama. Tapi
Perahu kecil itu meluncur masuk ke celah karang.Dinding batu di kedua sisi menjulang tinggi. Hitam. Basah. Berkilau oleh uap air yang terus mengepul dari celah-celah batu. Dan semakin dalam mereka masuk, semakin panas udara di sekitar mereka. Bukan panas matahari. Panas yang datang dari bawah. Dari dalam. Dari sesuatu yang sangat tua dan sangat besar yang sedang bernapas di perut bumi."Mas," ucap Manager Pratiwi. Suaranya terdengar berbeda di dalam celah ini. Bergema. Memantul di dinding batu. "Suhu udara naik. Sudah empat puluh tiga derajat."Kukuh mengangguk. Ia bisa merasakannya. Panas itu bukan hanya menyentuh kulit. Panas itu masuk. Menembus pori-pori. Menyentuh tulang. Dan di dadanya, liontin kamboja berdenyut. Lebih cepat dari sebelumnya. Bukan lemah. Bukan stabil. Cepat. Seperti jantung yang baru saja mendengar sesuatu yang sudah lama ia tunggu."Dokter Adhi," ucap Kukuh tanpa menoleh. "Bagaimana kondisi Bapak nelayan yang kita tolong?"Dokter Adhi yang duduk di buritan pera
Dek kapal itu luas.Lantainya dilapisi baja yang sudah dipoles hingga mengkilap. Karpet merah membentang dari haluan ke buritan. Di kedua sisi, railing emas memantulkan cahaya matahari yang menembus kabut. Dan di tengah semua kemewahan itu, berdiri dua orang.Bima Kanaka Kencana di satu sisi. Kemeja sutra putihnya sudah digulung sampai siku. Jam tangan emasnya sudah dilepas, diletakkan di atas meja kecil di samping. Dan di kulitnya, ukiran rajah berwarna emas mulai berpendar. Dari leher. Dari bahu. Dari lengan. Mengalir seperti sungai emas yang baru saja menemukan jalannya.Kukuh di sisi lain. Kaos hitamnya masih basah oleh air laut. Perban di lengannya sudah diganti dengan kasa sederhana oleh Manager Pratiwi sebelum ia naik ke kapal. Dan di dadanya, liontin kamboja berdenyut. Pelan. Stabil. Seperti jantung kedua yang sudah belajar berdetak seirama dengan jantung pertamanya."Kyai Agus pernah bicara tentangmu," ucap Bima. Suaranya tidak lagi sombong. Tidak lagi meremehkan. Lebih berat
Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya
"Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik
Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura
Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha







