Partager

Bab 496

Auteur: Millanova
last update Date de publication: 2026-09-29 19:56:25

Pagi itu, Kukuh melangkah masuk ke lobi RS Lohitajaya.

Kemeja kerja sudah terpasang rapi. Perban di lengannya sudah diganti. Wajahnya masih pucat, tapi matanya jernih. Langkahnya stabil. Tidak terburu-buru. Tidak ragu.

Di lobi, Ratih sudah menunggu.

Berdiri di samping meja resepsionis. Kemeja sutra abu-abu. Rambut diikat rapi. Mata sedikit sembab karena kurang tidur. Tapi punggungnya tegak. Tangannya tidak gemetar.

Ratih menatap Kukuh. Lama.

Lalu berjalan mendekat. Tidak berlari. Tidak berteria
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 497

    "S-selamat pagi, Pak. Ada yang bisa.....""Tutup rumah sakit ini."Tiga kata. Datar. Final. Tanpa penjelasan. Tanpa negosiasi.Resepsionis membeku. "M-maaf, Pak?"Mayor Yudha tidak mengulang. Tidak perlu. Ia hanya mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya. Meletakkannya di meja resepsionis. Kertas dengan kop resmi. Stempel merah. Tanda tangan yang tidak bisa dipalsukan."Surat perintah penutupan sementara RS Lohitajaya. Alasan: ancaman keamanan nasional. Efektif mulai hari ini. Semua pasien harus dievakuasi dalam waktu enam jam."Resepsionis menatap kertas itu. Menatap Mayor Yudha. Menatap dua belas pasukan di belakangnya. Dan menelan ludah."T-tapi, Pak. Kami punya pasien di ruang ICU. Pasien yang tidak bisa dipindahkan sembarangan. Kalau kami menutup.....""Itu bukan masalah saya." Mayor Yudha memotong. Suaranya tidak meninggi. Tidak mengeras. Justru sebaliknya. Turun. Lebih pelan. Lebih dingin. "Itu masalah kalian. Enam jam. Setelah itu, saya tidak peduli siapa yang masih di da

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 496

    Pagi itu, Kukuh melangkah masuk ke lobi RS Lohitajaya.Kemeja kerja sudah terpasang rapi. Perban di lengannya sudah diganti. Wajahnya masih pucat, tapi matanya jernih. Langkahnya stabil. Tidak terburu-buru. Tidak ragu.Di lobi, Ratih sudah menunggu.Berdiri di samping meja resepsionis. Kemeja sutra abu-abu. Rambut diikat rapi. Mata sedikit sembab karena kurang tidur. Tapi punggungnya tegak. Tangannya tidak gemetar.Ratih menatap Kukuh. Lama.Lalu berjalan mendekat. Tidak berlari. Tidak berteriak. Hanya berjalan. Satu langkah demi satu langkah. Sampai ia berdiri tepat di depan suaminya."Kau pulang," ucap Ratih."Aku janji."Ratih tersenyum. Kecil. Tulus. Lalu memeluk Kukuh. Erat. Tidak lama. Hanya beberapa detik. Tapi cukup."Kau berbeda," bisik Ratih di telinga Kukuh. Suaranya pelan. Hanya untuk mereka berdua."Apa yang berbeda?""Semuanya." Ratih melepaskan pelukan. Menatap Kukuh. "Matamu. Langkahmu. Cara kau bernapas. Semuanya berbeda."Kukuh tidak menjawab. Hanya tersenyum."Di ma

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 495

    Perahu kecil itu menembus kabut Selat Sunda menjelang sore.Kukuh duduk di haluan. Diam. Menatap langit yang berubah dari kelabu menjadi jingga.Di dadanya, liontin kamboja berdenyut pelan. Seirama dengan ukiran rajah yang kini memenuhi seluruh tubuhnya. Seratus persen. Lengkap."Mas," ucap Manager Pratiwi dari belakang. "Kita sudah lewat Merak. Tiga jam lagi sampai Jakarta."Kukuh mengangguk."Kondisi Bhanu?"Pratiwi membuka tabletnya. Membaca pesan dari Dokter Harsha. "Belum ada serangan. Tapi Mayor Yudha bergerak di Jakarta Selatan. Kumpulkan orang. Bhanu terakhir terlihat di puncak gedung Kuningan. Berdiri di sana. Menunggu.""Berapa hari sudah lewat?""Tujuh dari tiga puluh. Sisanya dua puluh tiga."Dua puluh tiga hari.Kukuh menarik napas. Menghembuskannya."Dokter Adhi," ucap Kukuh. "Bapak nelayan?""Stabil. Sudah bisa duduk. Sudah bisa minum.""Bagus. Antar dia ke rumah sakit begitu kita sampai Merak.""Siap."Perahu terus bergerak. Mesin berdengung. Ombak menghantam lambung.

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 494

    "Berdiri," ucap Eyang Amerta.Kukuh berdiri. Kakinya sedikit gemetar. Bukan karena takut. Karena kosong. Karena ada satu ruang di kepalanya yang baru saja diambil dan belum terisi oleh apa pun. Seperti rumah yang baru saja kehilangan satu perabot dan kini terasa lebih luas tapi juga lebih sunyi."Buka kemejamu."Kukuh membuka kancing kemejanya. Satu per satu. Perlahan. Sampai dadanya terbuka. Dan di sana, di kulit yang masih dibalut perban tipis, ukiran rajah itu terlihat. Garis-garis merah yang mengalir dari bahu ke lengan. Dari dada ke perut. Dari punggung ke pinggang. Tapi tidak penuh. Masih ada ruang kosong. Seperti peta yang baru setengah digambar.Eyang Amerta melangkah mendekat. Sosok tua itu berhenti tepat di depan Kukuh. Jaraknya hanya satu kepalan tangan. Dan di jarak sedekat itu, Kukuh bisa merasakan panas yang keluar dari tubuh Eyang Amerta. Bukan panas api. Bukan panas magma. Panas yang berbeda. Panas yang sangat tua. Panas yang sudah ada sejak sebelum api ditemukan."Aku

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 493

    Kukuh membuka matanya. Air mata masih mengalir. Tapi tangannya tidak gemetar. Kakinya tidak goyah. Dan di matanya, ada sesuatu yang bergerak. Bukan keberanian. Bukan pengorbanan. Sesuatu yang lebih sederhana. Lebih mendasar.Penerimaan."Kalau saya menyerahkan satu kenangan," ucap Kukuh pelan. "Pak Kasiman akan hilang dari ingatan saya. Selamanya.""Tidak." Eyang Amerta menggeleng. "Pak Kasiman tidak akan hilang. Namanya akan tetap ada. Wajahnya akan tetap ada. Suaranya akan tetap ada. Yang hilang hanya satu momen. Satu potongan kecil dari keseluruhan. Dan kau tidak akan pernah tahu potongan mana yang hilang. Kau hanya akan tahu bahwa ada sesuatu yang kosong. Dan kekosongan itu tidak akan pernah bisa diisi."Kukuh menelan ludah. Tenggorokannya terasa seperti dicekik. Bukan oleh tangan. Oleh keputusan yang harus ia buat."Boleh saya memilih kenangan mana?" tanya Kukuh."Ya."Kukuh menutup matanya lagi. Dan kali ini, ia tidak mencari kenangan yang paling indah. Tidak mencari kenangan ya

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 492

    "Ujian keempat bukan ujian kekuatan," ucap Eyang Amerta. Suaranya datar. Tenang. Seperti seseorang yang sedang menjelaskan sesuatu yang sudah sangat lama ia pikirkan. "Bukan ujian keberanian. Bukan ujian kesabaran. Ujian keempat adalah ujian kehilangan."Kukuh menatap sosok tua di depannya. Menatap ukiran rajah putih yang menyala di seluruh tubuhnya. Menatap mata yang sangat dalam dan sangat sabar."Kehilangan apa?" tanya Kukuh.Eyang Amerta tidak langsung menjawab. Sosok tua itu mengangkat satu tangannya. Jari-jarinya yang kurus dan berbuku-buku terangkat. Menunjuk ke dada Kukuh. Ke liontin kamboja yang berdenyut di balik kemeja."Kenangan," jawab Eyang Amerta.Satu kata. Sederhana. Tapi beratnya seperti gunung yang diletakkan di atas dada.Kukuh membeku."Rajah Getih tidak diukir dengan darah biasa, Nak Kukuh," lanjut Eyang Amerta. "Kau sudah tahu itu. Darah pewaris sebelumnya mengalir di ukiranmu. Darah Wiratama. Darah Lawa Pratiwi. Darah dua puluh satu generasi sebelummu. Tapi unt

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 2

    Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 1

    "Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 7

    Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 6

    Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status