Sudut Pandang Mia:Dunia menyempit menjadi sekadar sensasi, bibir Keenan di bibirku, tangannya terjalin di rambutku, panasnya ramuan Karina membakar aliran darah kami. Setiap sentuhan terasa berlipat ganda, menyetrum, seolah-olah rempah itu membangunkan setiap ujung saraf di tubuhku.Cahaya bulan menerangi lewat jendela kamar tidur, melukis bayangan perak di wajah Keenan saat dia sedikit menarik diri, napasnya tersengal-sengal. Mata kelabunya nyaris tampak hitam, pupilnya melebar oleh hasrat."Mia," bisiknya, namaku terdengar seperti doa sekaligus kutukan di bibirnya. Jemarinya menelusuri lekuk pipiku, turun ke leher, meninggalkan jejak panas di setiap sentuhan. "Katakan."Aku tidak bisa menjawab. Aku tidak bisa memercayai suaraku saat sentuhannya merobohkan setiap pertahanan yang selama ini kubangun. Sebagai gantinya, aku menariknya kembali ke arahku, tenggelam dalam rasa rempah dan kegelapan di lidahnya.Kami bergerak seperti penari dalam mimpi, setiap langkah membawa kami semakin de
Read more