Sudut Pandang Mia:Tanganku gemetar saat meraih tasku, jemariku menyentuh amplop cokelat di dalamnya. Dokumen perceraian itu terasa berat, bukan hanya karena bobot hukumnya. Kertas-kertas itu mewakili kebebasanku, atau setidaknya seharusnya begitu."Aku sudah mengambil keputusan," kataku pelan sambil mengeluarkan amplop itu. Kamar rumah sakit terasa menyempit, udara di antara kami makin pekat oleh ketegangan.Pandangan Keenan terpaku pada amplop itu, rahangnya mengeras. "Apa itu?""Kamu tahu ini apa." Aku mengulurkan dokumen-dokumen itu, suaraku lebih tenang daripada perasaanku. "Aku sudah tanda tangan."Tawanya terdengar kasar, bergema di dinding kamar yang steril. "Kamu serius?""Aku belum pernah seserius ini." Aku melangkah mendekat, memaksanya menerima amplop itu. "Ini sudah berakhir, Keenan. Apa pun yang pernah ada di antara kita, kontrak, pernikahan palsu, semuanya. Sudah berakhir."Jari-jari Keenan menggenggam amplop itu, tetapi alih-alih membukanya, dia berjalan ke arah jendela
Read more