Sudut Pandang Mia:"Mia Wongso?" Nada di balik suara Dokter Nanda Polanit entah mengapa terdengar akrab, membuatku terdiam sejenak. Mata birunya yang menyerupai samudra menatap wajahku dengan kehangatan tak terduga, seolah melihat seorang sahabat lama, bukan sekadar anggota keluarga pasien."Sebenarnya, margaku sekarang adalah Bramantyo," aku langsung mengoreksinya, meski sebenarnya aku enggan mengatakan nama itu. "Maaf, tapi apa kita pernah ketemu sebelumnya?"Dia tersenyum, dan sesuatu dari senyum itu mengubah wajah tampannya menjadi hampir kekanak-kanakan. "Ketemu langsung sih nggak pernah. Tapi aku mengenal karyamu. Lukisanmu, khususnya. Dan lukisan-lukisanmu itu luar biasa."Aku berkedip, terkejut. Lukisan? Aku bahkan sudah lama tidak memegang kuas, sejak ...."Pasti ada yang salah," kataku perlahan. "Aku sudah lama sekali nggak melukis.""Seri yang kamu buat untuk pameran terakhir di universitas ...," katanya tiba-tiba, menarik kursi untuk bergabung denganku dan Dokter Sera. "Ter
Read more