"Kamu pulang nggak malam ini?"Dengan menepis rasa tidak percaya dirinya, Anisa tetap ikut sarapan bersama Dimas. Dia tidak banyak bicara, hanya diam-diam memastikan Dimas makan dengan baik. Setelah itu, dia bahkan mengantar Dimas sampai ke mobil, di mana sopir sudah menunggu untuk mengantarnya ke kantor."Kenapa tanya begitu?" Dimas meliriknya sekilas, menangkap senyum lembut di wajah Anisa. Dia tidak menghentikan Anisa yang dengan alami berperan sebagai istri yang perhatian, merapikan penampilannya sebelum bekerja, seolah-olah hal itu sudah menjadi kebiasaan."Dasi kamu agak miring, Dim," kata Anisa lembut, merapikannya sambil menyentuh dadanya dengan ringan. Mata cokelatnya yang hangat menatap Dimas untuk sesaat, terlihat tenang dan tulus, membuat Dimas sedikit terkejut. Ada sesuatu yang jujur dan polos dalam sorot matanya, sesuatu yang samar-samar menarik hatinya."Makasih," kata Dimas cepat, lalu mengalihkan pandangan. "Dan ya. Aku akan pulang malam ini."Anisa mengangguk, seakan
Read More