"Mm ... kok empuk banget?" gumam Anisa, suaranya nyaris tak terdengar. Kelopak matanya berkedip saat sinar matahari pagi yang lembut menyusup masuk, membantu penglihatannya menyesuaikan diri.Secara refleks, dia meraba ke sekeliling, berharap menemukan barang-barang yang biasa ada di sisinya, seperti boneka kelinci kesayangannya, dan ponsel yang selalu berada di dekatnya agar bisa langsung melihat jam saat bangun.Namun, ada yang tidak beres.'Tunggu ...,' pikirnya."Ini 'kan ... bukan kamarku?" desahnya, matanya berkedip-kedip kebingungan. Apa dia sedang bermimpi? Indranya berusaha memahami semuanya, rasa selimutnya, empuknya kasur, lalu ... aroma samar yang jelas maskulin.Akrab. Hangat. Bersih.Seperti Dimas Cokro.Panik langsung menghantam dadanya. Apa yang dia lakukan di sini? Yang lebih penting lagi, di mana Dimas?"Kamu sudah bangun?"Suara itu membuat bulu kuduknya meremang.Anisa menoleh tajam ke arah sumber suara. Dia ada di sana, duduk santai di sofa yang hanya beberapa lang
Leer más