Lydia membeku. Namun, dia masih tersenyum kecil."Kamu nggak perlu berhenti.""Memangnya nggak?""Nggak. Karena aku nggak mau kamu berhenti."Udara sore terasa makin tenang. Suara burung terdengar dari kejauhan, sementara matahari perlahan tenggelam di ujung cakrawala.Kaleb berdiri lalu mengulurkan tangannya."Ayo, satu putaran lagi?""Kamu memang suka menyiksaku ya?""Aku lebih suka menyebutnya tantangan."Lydia menghela napas, lalu menyambut uluran tangannya dan berdiri."Kurasa aku mulai terbiasa berjalan di sampingmu.""Jangan terlalu terbiasa.""Kenapa?""Karena aku nggak berencana berhenti."Lydia tertawa pelan. Langkahnya masih sedikit goyah, tetapi kini jauh lebih mantap."Kalau begitu, jangan pernah berhenti, Kaleb.""Aku nggak akan berhenti, Lydia."Saat mereka berjalan berdampingan di bawah langit senja yang keemasan, mereka tak lagi terlihat seperti dua orang yang selalu bertengkar, melainkan dua jiwa yang akhirnya menemukan ketenangan dalam kehadiran satu sama lain.Hari-
Baca selengkapnya