"Ayah, ke sini. Aku mau tunjukkan sesuatu," seru Jevan sambil berlari masuk ke dapur dengan rambut yang berdiri ke segala arah.Dimas yang baru saja meletakkan cangkir kopinya pun terkekeh-kekeh. "Pelan-pelan, Nak. Kamu bahkan belum sarapan.""Nggak, ini penting sekali. Lihat, ini gambar kita semua. Aku, Ibu, Grace, dan Ayah," kata Jevan sambil mengangkat buku gambarnya dengan bangga.Anisa yang sedang membalik panekuk pun berhenti sejenak, lalu menoleh sambil tersenyum lembut. "Oh ya? Ibu boleh lihat juga?""Tentu saja, tapi Ayah dulu."Setelah menjawab, Jevan berlari menghampiri Dimas dan menyodorkan gambar itu. "Lihat? Ayah sedang pegang payung, terus aku dan Grace ada di bawahnya. Ibu sedang memasak di sini."Dimas memperhatikan gambar itu cukup lama. "Kamu menggambarku seperti pahlawan."Jevan langsung menganggukkan kepalanya dengan tegas. "Karena Ayah selalu melindungi kami."Dari seberang dapur, Anisa memperhatikan pemandangan itu. Dimas merangkul Jevan dengan satu tangan sambil
Baca selengkapnya