"Lea, selamat untuk pernikahanmu, ya!" Airlea mengangkat wajahnya saat mendengar ucapan dari sang kakak. Mereka sedang makan malam bersama. Ditatapnya gadis berambut pirang di seberang meja itu. Jika disandingkan, Airlea tampak pucat tanpa warna, sementara sosok itu seperti sinar matahari yang bisa menghangatkan hati. Namun, setelah tujuh tahun disiksa dan dihukum oleh gadis itu, Airlea tahu bahwa baik senyum maupun ucapannya itu tidak pernah tulus. “Kenapa? Apa kau tidak bahagia akan menikah?” Adelia kembali berucap dengan senyum manis. “Tidak. Saya bahagia,” sahut Airlea. Gadis berambut putih kebiruan itu tersenyum kecil. Inilah saat dia berpura-pura seperti biasa. “Terima kasih, Kak.” Airlea melihat semua orang di sekeliling meja makan itu tersenyum puas dengannya. “Kalau begitu, coba ambilkan aku makanan.” Gian De Farn, kakak sulung Airlea yang selalu menyiksanya kalau gagal melakukan sesuatu itu berucap. Pemuda itu mencondongkan tubuh ke arah Airlea, berbisik tenang
Read more