Share

Pertemuan Tak Terduga

Author: Aadilry
last update Last Updated: 2026-01-03 12:09:24

Pandangan Airlea kemudian beralih pada tangan pria itu yang memegang tubuhnya. 

Dia pasti menangkap Airlea yang jatuh dari balkon. Dia yang sadar sesaat kemudian langsung melompat dan menunduk hormat.

"Ma-maafkan saya, Tuan Prajurit," bisik Airlea. “Terima kasih sudah menolong saya.”

Salah seorang prajurit dengan rambut pirang mengernyit dan berkata. “Nona, pria ini–”

Namun, ucapannya terhenti saat si pria berambut hitam legam itu mengangkat tangannya.

“Hati-hati,” kata sosok itu singkat.

Airlea mengangguk dan sedikit menunduk. “Sekali lagi, terima kasih, Tuan,” katanya. "Saya izin masuk." 

Gadis itu berlari dengan sedikit terseok-seok ke dalam. Pikirannya yang sempat teralihkan kembali fokus ke satu hal.

Siapa yang mendorongnya tadi?

Tapi saat ia kembali ke teras untuk mengecek, jelas saja sudah tidak ada siapa-siapa di sana.

Airlea menghela napas dan memutuskan untuk beristirahat saja. Toh jika ia memang mengikuti alur, kematiannya sudah jelas di mana.

Namun, sebelum ia sempat merebahkan diri di atas tempat tidur, seseorang mengetuk pintunya.

“Sebentar.”

Begitu pintu terbuka, terlihatlah sosok Raicia yang tinggi dengan tubuh proporsional dan wajah cantik, tapi dingin.

"Kakak sudah tiba," ujar adik iparnya tersebut.

Airlea mengangguk. “Baik.” Ia keluar dan mengikuti Raicia ke arah ruang makan.

"Kakak," panggil Raicia tiba-tiba di tengah jalan.

Airlea mengikuti arah pandang gadis itu, melihat seorang pria dengan seragam ksatria yang semula hendak berjalan ke arah sayap kiri mansion berbalik.

Sepasang mata Airlea membola. Bukankah itu pria yang menangkapnya tadi!?

Seketika Airlea seketika menutupi wajahnya yang merah.

Tidak hanya karena pertemuan pertama Airlea dengan ‘suami’-nya itu memalukan, ataupun karena ia salah mengenali pria itu sebagai salah satu dari prajurit biasa, tapi juga karena … ia sempat terpesona dengan pria itu.

Siapa yang menyangka suaminya begitu tampan!? 

Ah, tapi jika mengingat ia adalah pemeran utama pria … sebenarnya masuk akal. Meski memang agak psikopat dan posesif, banyak yang menyukai pria seperti itu.

“Adik.” Pria itu mengangguk. Suara baritonnya membuat Airlea memberanikan diri menatap sosoknya.

"Salam, Tuan Duke," tutur Airlea kemudian, pelan. Ia menegakkan tubuhnya dan tersenyum. “Selamat datang.”

Pria itu menatap Airlea selama beberapa detik, sebelum kemudian mengalihkan pandangan.

Dan berjalan begitu saja, meninggalkan Airlea dan Raicia yang masih di tempat.

Airlea tertegun. "Eh?"

"Dia memang menyebalkan." Raicia berkomentar. Ia menghela napas. “Kakak! Beliau ini istrimu. Paling tidak perkenalkan dirimu dulu.”

Mendengar itu, langkah Damiane berhenti.

“Dia sudah tahu siapa aku,” ucap pria itu dingin. “Kami sudah bertemu sebelumnya.”

“Apa? Di mana?” Raicia tertegun, sementara wajah Airlea memerah lagi. Namun, pria itu tidak menjelaskan lebih lanjut dan melanjutkan langkahnya.

“Apa maksudnya?” Raicia terdengar menggerutu.

"Tidak apa-apa. Tuan Duke sepertinya kelelahan.” Airlea berkata. Meski begitu, selain malu dan tidak nyaman, sebenarnya ia juga merasa kecewa menghadapi pertemuan yang dingin itu.

Tapi tidak apa-apa, ia berpikir. Kalau begini, paling tidak ia juga tidak akan terlibat perasaan saat pria itu membunuhnya.

“Anda pernah bertemu dengan Kakak?” tanya Raicia kemudian, membuat Airlea tersenyum kikuk.

“Beliau tadi sempat menolongku.” Hanya itu yang dikatakan Airlea. Raicia tampaknya belum puas, tapi dia tidak bertanya lebih lanjut.

Pada akhirnya, Airlea dibawa ke ruang makan. 

Saat ini di hadapan Airlea ada banyak makanan enak tersaji. Makanan yang biasa disantap oleh bangsawan. Dengan makanan sebanyak ini, Airlea bisa dikatakan sedang berpesta.

Di tempat asalnya, ia hanya diberi makan roti beras tiap hari. Ia hanya bisa makan enak kalau ada pesta atau sedang ada tamu–untuk menunjukkan kalau keluarga mereka baik-baik saja.

Serta bahwa mereka mencintai Airlea sepenuhnya. Padahal kenyataannya tidak demikian.

"Apakah makanannya tidak enak?" tanya Raicia dengan wajah datar saat mendapati Airlea hanya menatap makanannya.

Airlea berusaha tersenyum. Sedikit tidak biasa dengan wajah kaku Raicia. 

"Aku hanya terkejut karena terlalu banyak," ucap Airlea pelan.

Raicia hanya mengangguk kemudian lanjut menyantap makanannya. Airlea pun mengikuti, tersenyum senang kala rasa dari setiap makanan menyentuh lidahnya. 

"Oh, ya, tiga hari lagi adalah acara penyambutan Anda," tutur Raicia kemudian, masih dengan sikap formal. “Sebagai putri dan istri Kakak, Nyonya harus mempersiapkan diri dengan baik.”

“Baik,” balas Airlea. Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan ragu. “Tapi … ngomong-ngomong bisakah kita memanggil satu sama lain dengan panggilan biasa?" 

Mendengar panggilan ‘nyonya’ membuat Airlea seolah seperti manusia tua yang gila kuasa dan harta seperti kebanyakan novel yang dia baca. Lagipula, usianya tidak jauh beda dengan Raicia.

Akan tetapi, setelah pertanyaan Airlea itu, Raicia hanya diam dan menatapnya. Itu berhasil membuat gadis kecil yang ditatap semakin merasakan atmosfer canggung.

"A-apakah tidak bisa?” tanya Airlea lagi. Ia menunduk. Ah, ia seharusnya tidak bicara saja. “Maaf. Aku ... hanya ingin lebih dekat denganmu."

"Bukan begitu,” balas Raicia dengan suara yang terdengar sedikit ramah. Ia menghela napas. “Baiklah. Saya harus memanggil Anda dengan apa?"

"Lea!" sahut Airlea cepat. Senyumnya mengembang sangat indah. Rasanya senang dan lega karena mungkin saja setelah ini Raicia tak akan memanggilnya seperti sebelumnya. "Bagaimana denganmu?"

"Terserah kau saja."

Airlea terkejut. Dia terdiam di tempat dengan tatapan yang kaku lagi. Setelah bertahun-tahun mengikuti alur novel, apalagi memang di tempat asalnya ia tidak dibiarkan bertindak macam-macam, penolakan seperti ini membuatnya rikuh.

Menyadari perubahan sikap Airlea. Raicia cepat berkata. "Apapun yang kau mau. Panggil saja."

Gadis berambut putih kebiruan itu berpikir dan tersenyum. Sembari berucap; "Bagaimana dengan Sia?"

Mendengar kata itu sedikit membuat Raicia tertegun. Itu mungkin kebetulan. Kebetulan yang membuat hatinya sedikit hangat. "Silakan saja," balas Raicia dengan suara tenang.

Senyuman hangat Airlea muncul. 

Di novel, meskipun Airlea adalah tokoh jahat, meskipun Airlea tidak pernah terlibat perbincangan banyak dengan Raicia. Gadis ini tetap baik dan bahkan di penggalan akhir tentang Airlea, Raicia gadis yang hendak menyelamatkan dirinya. Itu sudah membuktikan, jika dibalik wajah datar itu ada hati hangat yang sangat baik.

"Baik!" seru Airlea dengan senyuman riangnya.

Apakah ia boleh sedikit menikmati hidup meski sebentar?

***

Damiane Cassio Alverd. Lelaki tegas, keras, dan dingin itu diperintahkan untuk menikah dengan putri dari negeri musuh. Sebuah tugas jangka panjang dari sang paman yang membuat hatinya makin dingin karena sebenarnya ia sedang dekat dengan putri kekaisaran dari negara barat.

Sebagai duke muda, ia tidak bisa menolak.

Meski begitu, ia tidak menjanjikan bahwa ia akan bersikap ramah dan hangat pada wanita itu. Karenanya, di hari pernikahan, ia memutuskan untuk mengambil tugas ke perbatasan alih-alih menghadiri pernikahannya.

Siapa sangka saat ia pulang, istri mungilnya akan langsung menyambutnya dengan jatuh dari balkon?

Sampai sekarang pun Damiene tidak tahu apakah itu rekayasa putri dari negara musuh tersebut atau memang murni kebetulan semata.

Meskipun gadis kecil itu tampak terkejut dan malu saat menyadari identitasnya.

Tapi Ia tetap harus mencari tahu.

"Sampaikan undangan pada Putri Airlea untuk minum teh bersamaku di rumah kaca," titah Damiane pada pengawalnya kemudian.

Jika perempuan itu tak memiliki niat jahat, ia harus memastikannya sendiri. Damiene harus tetap waspada sampai akhir.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Anak Kucing

    Airlea tidak menyangka jika makanan yang sederhana itu akan menjadi sebuah keajaiban. Setiap hari tanpa bosan Damiane meminta makanan yang dimasak oleh Airlea dan pemuda itu selalu memakan masakan sang istri dengan lahap seolah masakan sederhana itu adalah makanan yang begitu istimewa melebihi masakan koki kediaman Alverd. Kemudian ada hal yang menjadi perkembangan besar menurut Airlea, yaitu adalah Damiane yang setiap kali makan harus dan wajib disuapi oleh Airlea. Aneh? Tentu saja. Hal baru ini tampak tidak serasi dengan badan tegap dan wajah galak Damiane. Hal baru yang tak pernah terbayangkan siapapun ini sempat menghebohkan seluruh kediaman bahkan wilayah Alverd. Tetapi, setelah berlalu cukup lama. Itu menjadi hal biasa karena mereka semua berkata. "Sang penguasa kaku yang dingin telah menemukan matahari hangat yang telah melelehkan dingin dan memberinya hangat." Akan tetapi hari ini Airlea tidak memasak karena sedang ingin bersantai. Toh, juga meskipun

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Sisi Berbeda

    Raicia langsung menyambut Airlea yang baru saja tiba di mansion bersama George. "Bagaimana di sana? Baik-baik saja, 'kan?" tanya Raicia yang terus mengikuti langkah kakak iparnya itu."Iya.""Tidak ada yang sakit? Kau tidak bertemu orang lain selain putri bukan?" tanya Raicia lagi. Gadis itu terus mengekori Airlea. Sedang gadis berambut putih pucat itu hanya fokus ke depan. Tanpa ekspresi. Entah apa yang terjadi di kediaman sang putri tadi siang."Iya." Lagi-lagi jawaban singkat Airlea.Raicia khawatir. Mungkin itu hal yang wajar, bukan hanya karena pertemuan Airlea dengan sang putri yang begitu mendadak dan tanpa alasan pasti tapi karena ini bukan negara Airlea dan perempuan itu adalah putri negara musuh. Seberapa banyak tatapan sinis yang Airlea terima sepanjang jalan? Apakah dia memang baik-baik saja selama tinggal berada di sana? Atau bahkan apakah gadis bertubuh kurus kecil itu tidak baik-baik saja saat berada di sini

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Pertemanan dengan Pemeran utama Wanita

    Kemarin tidak ada yang terjadi setelahnya. Airlea dan Damiane hanya tidur bersama, itu saja. Seperti biasanya Airlea yang tidur dengan Damiane. Pagi hari saat keduanya terbangun, mereka dikejutkan kabar jika Beatrice sudah kembali ke istana dini hari tadi. Tanpa pamit secara langsung, gadis itu meninggalkan sepucuk surat untuk Damiane. Surat yang berisikan ucapan selamat tinggal dan alasan kembalinya dia ke istana secepat itu.Lalu, Airlea yang membuatnya tidak menyangka adalah sang putri menitipkan surat juga untuknya. Sebuah undangan untuk minum teh tiga hari lagi di ibukota. Jujur saja, selama menikah dengan Damiane Airlea jarang keluar. Dia ini terhitung sebagai seorang tahanan mewah. Lagipun Airlea selalu fokus pada hubungannya dan Damiane."Surat? Kau mendapatkan undangan minum teh dari Yang Mulia Putri?" Raicia yang mendengar berita itu terkejut. Lalu dia tampak berpikir sebentar dan wajahnya kembali datar. "Dia mungkin ingin lebih dekat denganmu, Lea. Datan

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Pengakuan Cinta

    Damiane menatap sosok Beatrice yang diam saja di hadapannya. Sungguh, Damiane sendiri tidak mengerti kenapa dia masih di sini. Kakinya sudah hendak bergerak meninggalkan Beatrice untuk mendatangi istrinya yang saat ini berjalan beriringan dengan sang adik. Jarak mereka kian jauh. Namun, niatnya tertunda. Langkah kaki Damiane terhenti saat ucapan Beatrice berikutnya keluar."Ayah," katanya yang membuat Damiane langsung terkesiap. "Ayahku ingin aku bertanya padamu kapan kau akan meresmikan pernikahan ini," ujar Beatrice lagi. Seketika Damiane tertegun, menatap punggung Airlea yang menjauh. Perempuan itu kecil dan saat ini tengah sakit. "Saat Airlea sudah sehat. Aku akan meresmikan hubungan kami," jawab Damiane tanpa ragu. Hal itu membuat Beatrice yang ada di hadapan Damiane diam-diam meremas tangannya. Hati Beatrice agak sesak, tetapi dia tersenyum menatap Damiane. Berusaha menutupi semua yang dia rasakan."Kau ingin menyusul istrimu bukan?"

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Perubahan kecil

    Suasana tegang dan canggung tampak jelas menyelimuti tiga gadis yang tengah duduk sembari sesekali menyeruput teh di cangkir indah yang mereka pegang. Semula ini adalah acara minum teh Airlea dan Raicia di taman kesukaan mendiang Duchess, tetapi mendadak Beatrice datang dan bergabung dengan mereka.Tidak ada alasan untuk menolak kedatangan sang putri. Jadi, pada akhirnya gadis itu bergabung dengan Raicia dan Airlea."Raicia, tadi aku bertanding dengan kakakmu. Tebak siapa yang menang? Haha!" Suara Beatrice mengalihkan pandangan Airlea yang semula menunduk menatap gelasnya. Dia menoleh ke arah Beatrice yang cerita dan Raicia yang selalu memiliki sedikit ekspresi.Jawabannya jelas Beatrice. Ini dialog yang sama di bab ketiga. Semua masih mirip, bagaimana bisa? Apakah memang Airlea tidak bisa merubah semua kesedihan di kehidupan ini? Rasanya sedih setelah perubahan itu, beberapa hal tetap berjalan sesuai alur.'sialan,' maki Airlea dalam hati.

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Racun es

    Airlea membuka matanya. Dia menatap sekitar yang asing. Ini bukan ruang kamarnya. Pertanyaan tentang di mana dia sekarang muncul. Lantas, pandangan netra Magenta Airlea tertuju pada Damiane yang duduk di sisi kanan. Sembari memegang buku. Tatapan Damiane tak tertuju pada buku yang terbuka. Melainkan menatap Airlea yang baru terbangunTanpa kata Damiane beranjak mendekati Airlea dan meletakkan punggung tangannya di atas dahi Airlea yang kebingungan."Kau sedingin salju." Hanya kalimat itu yang terdengar. Kemudian dia menyerahkan satu nampan berisi obat. "Biasanya mana yang kau minum kalau kambuh?" tanya pria bertubuh tegap itu lagi. Airlea menatap obat-obat yang terlihat asing di matanya. Tidak, sekalipun Airlea tidak pernah mengonsumsi obat pereda nyeri kala racun itu kambuh. Jadi, Airlea tidak tahu yang mana. Sejauh ini dia hanya akan diam di sudut kamar. Dengan berlapis-lapis kain untuk menghangatkan tubuh dari efek racun itu. "Aku lupa." Airl

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status