LOGINAirlea Filonwy De Farn, putri yang hanya memiliki gelar, tidak lebih. Seorang putri tak dianggap yang terasingkan. Pernikahan dengan kedok pertahanan politik. Airlea dinikahkan dengan seorang Duke dari negara musuh. Dengan misi penghancuran negara musuh. Sebagai pion tentu dia tidak berharga dan berakhir tragis. Mati di tangan Duke Alverd yang kejam, suaminya sendiri.
View More"Lea, selamat untuk pernikahanmu, ya!"
Airlea mengangkat wajahnya saat mendengar ucapan dari sang kakak. Mereka sedang makan malam bersama. Ditatapnya gadis berambut pirang di seberang meja itu. Jika disandingkan, Airlea tampak pucat tanpa warna, sementara sosok itu seperti sinar matahari yang bisa menghangatkan hati. Namun, setelah tujuh tahun disiksa dan dihukum oleh gadis itu, Airlea tahu bahwa baik senyum maupun ucapannya itu tidak pernah tulus. “Kenapa? Apa kau tidak bahagia akan menikah?” Adelia kembali berucap dengan senyum manis. “Tidak. Saya bahagia,” sahut Airlea. Gadis berambut putih kebiruan itu tersenyum kecil. Inilah saat dia berpura-pura seperti biasa. “Terima kasih, Kak.” Airlea melihat semua orang di sekeliling meja makan itu tersenyum puas dengannya. “Kalau begitu, coba ambilkan aku makanan.” Gian De Farn, kakak sulung Airlea yang selalu menyiksanya kalau gagal melakukan sesuatu itu berucap. Pemuda itu mencondongkan tubuh ke arah Airlea, berbisik tenang di telinga gadis itu. Dia meremas tangan gadis itu dengan sangat erat tepat di bekas luka beberapa waktu lalu. “Sayang, nanti kita tidak bisa bersenang-senang lagi.” Mendengarnya, Airlea langsung berdiri. Tangan gadis itu otomatis bergerak menutupi bekas luka di lengannya akibat siksaan sang kakak dengan gaun. “Oh, atau.” Gian memainkan pisau makannya. “Kita bisa melakukannya untuk yang terakhir kali?” tanya Gian sembari menatap ke arah Airlea yang ketakutan. Airlea terkesiap. Dia kembali duduk dengan kepala tertunduk. “Kakak, biarkan Lea makan terlebih dahulu,” ucap Adelia manis. “Makanannya sudah dingin.” “Adikku sayang, Kakak juga butuh makan dan bersenang-senang,” balas Gian. “Lagipula, dia cuma boleh makan roti beras. Mau dimakan sekarang atau nanti tidak ada bedanya.” Gian berucap sembari menatap isi piring Airlea yang memang berisikan roti bekas yang mana makanan itu terdapat sedikit bercak jamur. Airlea menyantap makanan itu dengan perlahan sembari menahan air matanya. “Kakak, jangan lupa kalau Lea akan menikah.” Adelia kembali berucap. “Bagaimana kalau suaminya tahu hadiah tentang perpisahan Kakak yang begitu istimewa ini? Bisa-bisa dia akan dikembalikan karena cacat.” Gian mendengkus. “Ah, meski terkenal gila, aku yakin pria itu tidak akan bernafsu melihat wanita kurus kering seperti perempuan ini. Dia tidak akan menyentuhnya.” Mendengar itu, Airlea mengeraskan rahang dan menutup mulutnya rapat-rapat. Meskipun hatinya terasa teriris mendengar ucapan sang kakak. “Oh ya. Kalau begitu, mungkin aku harus membiarkannya makan daging. Sekalian sebagai ucapan perpisahan.” Kakak kedua Airlea, Federick De Farn, menambahkan. Ia menatap Airlea dengan senyum miring. “Siapa tahu bisa sedikit memperbaiki gizinya. Kau mau, Adikku?” Airlea tersenyum kaku. “Jika Kakak berkenan,” ucapnya pelan. Meski ia tahu apa yang akan terjadi, menolak dia akan salah, menerima juga salah. Tawaran itu adalah negosiasi mematikan Federick. Federick memberikan potongan daging kepada Airlea. Gadis itu tampak ragu untuk memakannya Mengingat dulu pemuda itu pernah mencoba meracuninya. “Airlea.” Sang ayah yang duduk di kepala meja kemudian bersuara. Tampaknya dia sadar Airlea ragu tentang makanan di depannya. “Makanlah yang banyak. Kau butuh energi untuk menjalani pernikahanmu dengan baik.” Airlea tersenyum sopan. “Baik, Ayah,” balasnya. “Sering-seringlah berkirim surat. Aku ingin mendengar bagaimana kehidupanmu di sana.” Sang ayah kembali mengucapkan kalimat formalitas seolah dia paling mencintai Airlea dan sangat menghawatirkan putrinya yang akan dinikahkan dengan musuh beberapa waktu lalu. Airlea menunduk. Itu adalah misinya yang dikemas dengan kalimat baik, lantaran sedang banyak saksi mata. Ayahnya yang merupakan Kaisar yang ambisius dan selalu bersikap munafik, semua perhatiannya yang palsu menekan hati Airlea. Selalu begitu selama tujuh tahun ia hidup dalam tubuh ini. Ya. Ini sebenarnya bukan tubuhnya yang asli. Pemilik asli tubuh ini adalah Airlea, salah satu tokoh sampingan yang ditumbalkan oleh orang tuanya sendiri. Ia dinikahi oleh Damiane von Alverd demi perdamaian antar dua negara. Namun, berakhir di tangan sang suami karena sudah mengkhianati kerajaan demi mematuhi perintah ayahnya. Terhitung sudah 7 tahun dia menggunakan tubuh ini, berusaha mengubah nasibnya tapi tidak ada jalan keluar selain menjalani semuanya. "Ironis,” ucap Airlea dalam hati. Dulu ia juga mati karena keluarganya mengabaikannya, sampai-sampai sang suami bisa menghajarnya hingga tewas. Di kehidupan kedua ini juga ternyata sama saja. Pun, ia juga akan mati di tangan sang suami, meski karena alasan lain. Gadis itu menatap pantulan dirinya yang menyedihkan di punggung sendok makan. Lusa, ia akan dikirim untuk menikah. Lalu beberapa bulan setelahnya, Airlea akan terbunuh. Mungkin dengan begitu, ia akan bebas dari skenario pahit ini. *** "Lea, berbahagialah dengan suamimu," ucap sang kaisar yang kini mengantarkan Airlea ke ke kereta kuda yang akan membawanya ke dermaga. “Dan jangan lupakan pesanku.” Airlea mengangguk. Ia sudah menikah sekarang, meskipun Airlea tadi mengucapkan janji suci sendirian di altar. Duke Alverd, suaminya, tidak datang ke pernikahan mereka. "Maaf karena Tuan Duke tidak bisa datang karena tugas rahasia," tutur salah seorang ksatria dengan tubuh tinggi, rambutnya kecoklatan. Dermaga kini dipenuhi oleh para ksatria negara barat, di kedua sisi jalan menuju kapal yang akan membawanya ke negara seberang itu. "Ah, begitu." Airlea tak menjawab banyak. Mereka pergi ke negara barat dengan kapal. Perjalanan mereka akan memakan waktu beberapa hari. *** Airlea dan rombongan akhirnya tiba di pelabuhan, Airlea bisa menyaksikan bahwa negara barat sendiri memang sangat indah. Pakaian, tradisi, cara berbicara, dan bangunan juga sangat apik dan unik. Airlea sejenak kagum melihat pemandangan luar biasa negara barat. Setelah perjalanan yang cukup panjang dari pelabuhan ke mansion Alverd. Akhirnya, Airlea tiba di kediaman luar biasa yang luas, ornamen mansion ini luar biasa. Sepanjang perjalanan mengelilingi kediaman Airlea mengikuti langkah seorang orang kepercayaan Alverd. Frass namanya. "Putri Airlea," panggil seorang perempuan tiba-tiba dengan rambut pirang bermata merah menyala. Perempuan cantik berwajah dingin. "Ya?" Airlea menyahut tenang. Padahal jantungnya sudah berdegup kencang karena tatapan menghunus perempuan ini. "Maaf karena Kakak tidak bisa menjemput Anda," tutur Raicia Alverd. Adik dari tokoh utama laki-laki sekaligus sahabat tokoh utama perempuan. "Ah, tidak apa-apa. Dia sedang sibuk karena tugas rahasia." Raicia mengernyit. Kemudian menghela kasar. Reaksinya membuat Airlea agak mengerti apa yang terjadi. Mungkin memang bukan tugas rahasia. Setahu Airlea, Damiane begitu perhatian dengan teman masa kecilnya atau bisa dibilang sepupunya. Ya, apapun itu Airlea tidak terlalu ingin ambil pusing. intinya, dia harus selamat dari plot novel ini. Ia dipersilakan untuk istirahat setelahnya. Itu sebabnya sekarang, Airlea duduk di atas kursi yang ada di teras kamar menatap pemandangan taman kediaman dari lantai tiga. Tangan kurusnya tanpa sadar meraba bagian perut tepat di mana pedang pemeran utama pria akan menusuknya. "Apakah sangat sakit?" Tapi bukankah jika dihunus akan langsung mati. Berbeda dengan disiksa, ia akan merasakan sakit hingga merintih untuk mati setiap saat. Sakit dihunus pedang tidak ada apa-apanya itu lebih baik dari disiksa berhari-hari, bukan? Kehidupan ini bisa jadi sedikit lebih baik dibandingkan kehidupan sebelumnya. Perempuan dengan gaun sederhana berwarna biru muda itu berjalan mendekati pembatas teras. Menopang dengan kedua tangan pada pembatas teras untuk melihat pasukan yang baru saja memasuki kediaman Alverd. "Di mana Duke gila itu?" tanya Airlea sendiri. Alisnya berkerut karena menatap ke bawah untuk mencari suaminya di antara barisan. Namun, tiba-tiba Airlea merasakan seseorang mendorongnya dari belakang. “Ah!” Airlea kehilangan keseimbangan dan tubuhnya pun terjun bebas dari teras lantai tiga itu. Ia memejamkan mata erat. Batinnya berteriak keras. "Aku baru saja datang tapi sudah akan mati–" Bruk! Airlea merasakan tubuhnya yang jatuh di tempat yang terasa aneh. "Hei." Suara berat seorang pria mengejutkan Airlea hingga akhirnya ia membuka mata. Seketika perempuan itu terkejut karena jarak yang begitu dekat dengan seorang pria tampan dengan rambut hitam legam. Garis wajahnya tegas dengan bulu mata lebat tetapi tidak lentik, alis tajam dan bibir yang penuh. Airlea membatin. “Pria ini….” Matanya melirik ke arah tangan pria itu yang memegang tubuhnya. Sekarang, dia baru sadar apa yang sudah terjadi.Napas Airlea memburu. Berusaha berjalan dengan benar. Tubuh yang terasa sakit dan pegal dia abaikan. Langkah yang tak lihai lagi mulai menapaki tanah perlahan. Berusaha mendapatkan bantuan. Dari kejauhan dia melihat segerombolan orang berjalan ke arahnya. Rasa senang mencuat kala melihat gerombolan orang berkuda itu. Dia mulai berjalan mendekat. Tetapi, fokusnya tertuju pada anak panah dan pedang yang mulai ditujukan ke arah Airlea. Tatap bengis tanpa ampun membuat Airlea sadar jika mereka datang bulan untuk membantu tetapi membunuh.Segera dia berbalik. Berlari secepat mungkin. Mengabaikan semua rasa sakit. Dia harus hidup. Dia harus bertahan. Dia tidak mau cepat mati. Dia masih ingin menikmati kehidupan. Lelah tak terasa, sebab pikiran Airlea hanya kabur.Tetapi, sekeras apa dia mencoba, pasukan itu tampaknya lebih cepat. Dia mulai kehilangan kekuatan. Namun, tampaknya takdir menyayanginya. Seseorang meraih pinggang Airlea dan membawanya ke atas kuda yang sama tepat saat anak pana
Damiane berdiri di sisi sang istri yang sudah memerah wajahnya karena malu. Seulas senyuman terlihat di wajah tampannya."Aku tidak menyangka jika kau bisa memuji dengan sangat manis," tutur Damiane yang membuat Airlea langsung bergerak bersembunyi di sisi Raicia."Kenapa kau tidak bilang kalau Tuan Duke ada di sini, Cia," bisik Airlea.Raicia hanya tertawa kecil sembari mengusap rambut Airlea. Dia melirik sang kakak yang terus melihat ke arah Airlea. Ada perasaan hangat di hati Raicia melihat perubahan sang kakak. Tetapi, seketika dia tersadar dan alisnya berkerut. Sorot mata gadis itu berubah sedih."Kepalsuan itu terlalu nyata, Damiane," ucap Raicia.Damiane yang menatapi Airlea seketika tertegun. Dia menoleh ke arah Raicia yang sudah menatap datar. Tangan Raicia bergerak seolah menyerahkan Airlea kepada Damiane. Setelah itu barulah ia pergi meninggalkan mereka berdua.Raicia buru-buru pergi. Air matanya tanpa sengaja jatuh. Sakit di hati menjalar dengan cepat. Ada rasa sakit akiba
Damiane berdiri di sisi sang istri yang sudah memerah wajahnya karena malu. Seulas senyuman terlihat di wajah tampannya."Aku tidak menyangka jika kau bisa memuji dengan sangat manis," tutur Damiane yang membuat Airlea langsung bergerak bersembunyi di sisi Raicia."Kenapa kau tidak bilang kalau Tuan Duke ada di sini, Cia," bisik Airlea.Raicia hanya tertawa kecil sembari mengusap rambut Airlea. Dia melirik sang kakak yang terus melihat ke arah Airlea. Ada perasaan hangat di hati Raicia melihat perubahan sang kakak. Tetapi, seketika dia tersadar dan alisnya berkerut. Sorot mata gadis itu berubah sedih."Kepalsuan itu terlalu nyata, Damiane," ucap Raicia.Damiane yang menatapi Airlea seketika tertegun. Dia menoleh ke arah Raicia yang sudah menatap datar. Tangan Raicia bergerak seolah menyerahkan Airlea kepada Damiane. Setelah itu barulah ia pergi meninggalkan mereka berdua.Raicia buru-buru pergi. Air matanya tanpa sengaja jatuh. Sakit di hati menjalar dengan cepat. Ada rasa sakit akiba
Sebelumnya Airlea berpikir jika dia tiba di kediaman Alverd setelah pelarian itu, dia akan dibenci semua orang. Setiap kemungkinan buruk susah menghantui Airlea sebelum dia menginjakkan kaki lagi di kediaman Alverd. Namun, nyatanya tidak seperti itu. Semua orang menyambut Airlea dengan sangat. Bersorai dan tersenyum hangat seperti biasanya. Raicia yang melihat Airlea sudah tiba langsung memeluknya erat. Dia menangis karena rindu dan khawatir."Kau berada di luar sana untuk waktu yang cukup lama, apakah racun itu tidak menyiksamu? Dia tidak kambuh, 'kan?" kata Raicia diiringi pertanyaan yang membuat hati Airlea hangat.Perempuan berambut putih bagai salju di hadapan Raicia mengusap rambutnya. Dia tampak tersenyum lembut. "Aku baik-baik saja, Raicia," ucapnya.Raicia menghela napas. Matanya memancarkan rasa syukur. Dia menatap sang kakak nyalang. "Jangan sakiti istrimu lagi," ucapnya sembari memukul Damiane.Damiane tersenyum sembari mengusap lengan yang dipukul sang adik. "Tidak akan
Tiga hari lamanya setelah Airlea dinyatakan pulih total. Dia kini duduk di sofa kamar. Dengan novel romansa yang dia sukai di tangannya. Membaca setiap kata dengan antusias. Seperti biasa, membaca novel romansa membantu dapat Airlea untuk mendekati Damiane. Airlea yang tengah membaca menutup buku
Sudah lima hari Airlea tidak membuka mata, gadis itu tampak sangat betah dalam tidurnya. Tetapi, selama itu juga semua orang tidak bisa tenang. Airlea baru sebentar membersamai orang-orang kediaman Alverd. Tetapi, semuanya sudah begitu menyayangi gadis itu. Siang malam, pelayan dan ksatria selalu
Ruangan pengap yang remang. Airlea diikat di tengah ruangan itu, pada tiang tinggi. Sedang pemuda dengan rambut pirang yang begitu Airlea kenali duduk sebuah kursi yang berada lurus di depannya. Dia adalah Gian kakak sulung yang memiliki obsesi terhadap Airlea.Kini, di hadapan Gian, Airlea hanya b
Airlea membuka matanya. Tetapi, alis gadis itu berkerut begitu menyadari hal aneh pagi ini. Dia menunduk melihat dua tangan tegap yang melingkar di pinggangnya. Seketika gadis itu terbelalak."Argh!" teriaknya melempar tangan tegap itu. Si empu melenguh berat. Matanya mengerjap sembari m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.