LOGINAirlea Filonwy De Farn, putri yang hanya memiliki gelar, tidak lebih. Seorang putri tak dianggap yang terasingkan. Pernikahan dengan kedok pertahanan politik. Airlea dinikahkan dengan seorang Duke dari negara musuh. Dengan misi penghancuran negara musuh. Sebagai pion tentu dia tidak berharga dan berakhir tragis. Mati di tangan Duke Alverd yang kejam, suaminya sendiri.
View MoreNapas Airlea memburu. Berusaha berjalan dengan benar. Tubuh yang terasa sakit dan pegal dia abaikan. Langkah yang tak lihai lagi mulai menapaki tanah perlahan. Berusaha mendapatkan bantuan. Dari kejauhan dia melihat segerombolan orang berjalan ke arahnya. Rasa senang mencuat kala melihat gerombolan orang berkuda itu. Dia mulai berjalan mendekat. Tetapi, fokusnya tertuju pada anak panah dan pedang yang mulai ditujukan ke arah Airlea. Tatap bengis tanpa ampun membuat Airlea sadar jika mereka datang bulan untuk membantu tetapi membunuh.Segera dia berbalik. Berlari secepat mungkin. Mengabaikan semua rasa sakit. Dia harus hidup. Dia harus bertahan. Dia tidak mau cepat mati. Dia masih ingin menikmati kehidupan. Lelah tak terasa, sebab pikiran Airlea hanya kabur.Tetapi, sekeras apa dia mencoba, pasukan itu tampaknya lebih cepat. Dia mulai kehilangan kekuatan. Namun, tampaknya takdir menyayanginya. Seseorang meraih pinggang Airlea dan membawanya ke atas kuda yang sama tepat saat anak pana
Damiane berdiri di sisi sang istri yang sudah memerah wajahnya karena malu. Seulas senyuman terlihat di wajah tampannya."Aku tidak menyangka jika kau bisa memuji dengan sangat manis," tutur Damiane yang membuat Airlea langsung bergerak bersembunyi di sisi Raicia."Kenapa kau tidak bilang kalau Tuan Duke ada di sini, Cia," bisik Airlea.Raicia hanya tertawa kecil sembari mengusap rambut Airlea. Dia melirik sang kakak yang terus melihat ke arah Airlea. Ada perasaan hangat di hati Raicia melihat perubahan sang kakak. Tetapi, seketika dia tersadar dan alisnya berkerut. Sorot mata gadis itu berubah sedih."Kepalsuan itu terlalu nyata, Damiane," ucap Raicia.Damiane yang menatapi Airlea seketika tertegun. Dia menoleh ke arah Raicia yang sudah menatap datar. Tangan Raicia bergerak seolah menyerahkan Airlea kepada Damiane. Setelah itu barulah ia pergi meninggalkan mereka berdua.Raicia buru-buru pergi. Air matanya tanpa sengaja jatuh. Sakit di hati menjalar dengan cepat. Ada rasa sakit akiba
Damiane berdiri di sisi sang istri yang sudah memerah wajahnya karena malu. Seulas senyuman terlihat di wajah tampannya."Aku tidak menyangka jika kau bisa memuji dengan sangat manis," tutur Damiane yang membuat Airlea langsung bergerak bersembunyi di sisi Raicia."Kenapa kau tidak bilang kalau Tuan Duke ada di sini, Cia," bisik Airlea.Raicia hanya tertawa kecil sembari mengusap rambut Airlea. Dia melirik sang kakak yang terus melihat ke arah Airlea. Ada perasaan hangat di hati Raicia melihat perubahan sang kakak. Tetapi, seketika dia tersadar dan alisnya berkerut. Sorot mata gadis itu berubah sedih."Kepalsuan itu terlalu nyata, Damiane," ucap Raicia.Damiane yang menatapi Airlea seketika tertegun. Dia menoleh ke arah Raicia yang sudah menatap datar. Tangan Raicia bergerak seolah menyerahkan Airlea kepada Damiane. Setelah itu barulah ia pergi meninggalkan mereka berdua.Raicia buru-buru pergi. Air matanya tanpa sengaja jatuh. Sakit di hati menjalar dengan cepat. Ada rasa sakit akiba
Sebelumnya Airlea berpikir jika dia tiba di kediaman Alverd setelah pelarian itu, dia akan dibenci semua orang. Setiap kemungkinan buruk susah menghantui Airlea sebelum dia menginjakkan kaki lagi di kediaman Alverd. Namun, nyatanya tidak seperti itu. Semua orang menyambut Airlea dengan sangat. Bersorai dan tersenyum hangat seperti biasanya. Raicia yang melihat Airlea sudah tiba langsung memeluknya erat. Dia menangis karena rindu dan khawatir."Kau berada di luar sana untuk waktu yang cukup lama, apakah racun itu tidak menyiksamu? Dia tidak kambuh, 'kan?" kata Raicia diiringi pertanyaan yang membuat hati Airlea hangat.Perempuan berambut putih bagai salju di hadapan Raicia mengusap rambutnya. Dia tampak tersenyum lembut. "Aku baik-baik saja, Raicia," ucapnya.Raicia menghela napas. Matanya memancarkan rasa syukur. Dia menatap sang kakak nyalang. "Jangan sakiti istrimu lagi," ucapnya sembari memukul Damiane.Damiane tersenyum sembari mengusap lengan yang dipukul sang adik. "Tidak akan
Tiga hari lamanya setelah Airlea dinyatakan pulih total. Dia kini duduk di sofa kamar. Dengan novel romansa yang dia sukai di tangannya. Membaca setiap kata dengan antusias. Seperti biasa, membaca novel romansa membantu dapat Airlea untuk mendekati Damiane. Airlea yang tengah membaca menutup buku
Airlea membuka matanya. Tetapi, alis gadis itu berkerut begitu menyadari hal aneh pagi ini. Dia menunduk melihat dua tangan tegap yang melingkar di pinggangnya. Seketika gadis itu terbelalak."Argh!" teriaknya melempar tangan tegap itu. Si empu melenguh berat. Matanya mengerjap sembari m
Raicia langsung menyambut Airlea yang baru saja tiba di mansion bersama George. "Bagaimana di sana? Baik-baik saja, 'kan?" tanya Raicia yang terus mengikuti langkah kakak iparnya itu. "Iya." "Tidak ada yang sakit? Kau tidak bertemu orang lain selain putri bukan?" tanya Raicia lagi. Gadis i
Kemarin tidak ada yang terjadi setelahnya. Airlea dan Damiane hanya tidur bersama, itu saja. Seperti biasanya Airlea yang tidur dengan Damiane. Pagi hari saat keduanya terbangun, mereka dikejutkan kabar jika Beatrice sudah kembali ke istana dini hari tadi. Tanpa pamit secara langsung, gadis itu meni






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews